Menikmati Peninggalan Sejarah di Jogja


Semasa sekolah mulai dari putih biru sampai putih abu-abu kita pasti sudah akrab dengan yang namanya sejarah-sejarah Indonesia. Begitu banyak peninggalan termanis yang diwariskan zaman terdahulu untuk negara. Dan, kita diharuskan oleh Bapak atau Ibu guru untuk bukan hanya mengetahui saja tapi juga memaknai nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu itu. Walau sudah lanjut usia pun setidaknya kita masih ada yang mengingat sejarah-sejarah yang penemuannya masih terus berlanjut ditemukan hingga sekarang. 


Salah satu bukti sejarah Indonesia yaitu candi. Batu-batuan mengerucut itu sudah menghipnotis para mata-mata manusia. Bentuknya yang unik dan sangat terlihat kokoh tak akan membuat kita mengeluhkan kata “bosan”. Yang ada lidah selalu melontarkan kata “waaaoo”. 

Tak pernah terpikir bila pada akhirnya saya berkesempatan menginjakkan kaki di tanah bersejarah ini. Kesempatan itu merupakan sesuatu yang termanis yang tidak boleh terlewatkan.

Alhamdulillah saat itu saya bersama teman-teman IPDN NTB angkatan XXII mendapat jadwal Prajabatan Gol. III/a untuk gelombang pertama di Jogjakarta. Tepatnya di Pusdiklat Baciro selama satu setengah bulan mulai dari September - Oktober 2015. 

Jogja merupakan kota gudeg karena terkenal oleh makanan khasnya yaitu gudeg. Dan, bercerita tentang gudeg, saya mempunyai kisah yang sebenarnya tidak akan saya ulangi langi. 

Para asli pribumi ataupun para pendatang yang hidup di Jogja memiliki lidah yang akrab dengan masakan yang manis-manis. Berhubung saya tidak begitu suka dengan “terlalu pedas” dan “terlalu manis” alhasil memilih “yang sedang-sedang” saja. Saya penasaran dengan yang namanya gudeg, karena saya belum pernah sama sekali mencoba makanan khas tersebut. 

Ketika pesanan pun datang, suapan pertama perut saya masih dapat menerima kenikmatan gudeg tersebut. Suapan demi suapan menyisihkan nasi di piring. Di tengah akan masa penghabisan gudeg itu, rasa manis itu mulai mengganggu lidah saya. Perut membelit menahan rasa manis yang tak bisa dilawan, dan akhirnya saya pun mengalah. Tak bisa menghabiskan gudeg itu. Hehee...

1. Prambanan

Merupakan mahakarya kebudayaan Hindu tercantik di dunia dari abad ke-10. Tinggi menjulang hingga 47 meter (5 meter labih tinggi dari Candi Borobudur), dengan struktur bangunannya yang langsing membuat kecantikannya tak tertandingi.

Saya ingat hari itu (Minggu) kami berlima sebenarnya (saya, Angga, Andika, Surya dan Fayuk) yang kebetulan satu kelompok off class selama tiga minggu di daerah Kalasan, tidak ada rencana sama sekali dari sebelumnya akan melancong ke candi Prambanan. Karena jaraknya yang cukup jauh dari lokasi kos-kosaan kami. Disana jarang terlihat angkutan umum. Ingin rasanya meminjam kendaraan di ibu kos tapi tidak enak karena pasti ia juga lagi ada keperluan.

Alhasil, karena tekad kuat dan keinginan yang menggebu, kami pun memilih berjalan kaki sembari menikmati udara baru di daerah orang.

Jaraknya???

Jauh banget! Tapi kami menikmati. Jalanan kecil yang dikelilingi persawahan kami lewati. Rumah-rumah warga yang masih terlihat sepi (mungkin lagi sibuk di dalam). Setiap keluhan datang, kami selalu bersugesti "tinggal sebentar nyampe kok. Itu lihat puncak candinya". Padahal masih ada berkilo-kilo lagi. Hiks..hiks...kalau tidak salah perjalanan kami bisa sejauh 10 kilo pulang-pergi.

Kesalahan kami adalah tidak membawa bekal sama sekali. Hahaa..sok sekali ya! Mana di daerah orang lagi. Uang yang kami bawapun seadanya. Tapi kami tetap enjoy, karena perginya rame-rame hahaa...

Beberapa bagian candi sedang dalam proses renovasi akibat gempa yang melanda Jogja tahun 2006 silam. Kami memasuki setiap pintu-pintu candi. Tidak lupa diabadikan dong. 


Siapa sih yang tidak tahu kisah dibalik kokohnya candi Prambanan ini. Ya, kan?

Candi Prambanan melegenda dengan kisah cintanya Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang. Pembuatan candi ini di bangun untuk menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini menjadi pusat yang di kelilingi oleh 999 arca, dan genap menjadi 1000 arca ketika akhirnya Roro Jonggrang di kutuk oleh Bandung Bondowoso karena merasa dicurangi. 



2. Candi Mendut


Semua orang akan berpendapat bahwa Patung Roro Jonggrang itu berada di dalam Candi Prambanan. Karena kita kurang memahami arti sejarah yang kita peroleh di bangku sekolah. Rata-rata orang mengaitkan Roro Jonggrang itu dengan Candi Prambanan karena kisahnya yang menggemparkan. Maka dari itu perlunya kita berkunjung langsung agar dapat lebih mengetahuinya.

Aku juga merupakan salah seorang yang memiliki pemikiran begitu. Komplek Candi Prambanan ini begitu luas hingga halaman belakang candi. Nah, bila penasaran dengan patung Roro Jonggrang maka Anda bisa berjalan sebentar ke arah halaman belakang. Tak begitu jauh letaknya dari candi utama. 


Di sebelah kiri jalan ada papan petunjuk yang nanti akan mengarahkan Anda pada Candi Mendut. Nah, kok malah Candi Mendut? Di sinilah patung Roro Jonggrang itu berada. Saya bersama teman-teman berkunjung pada saat pemugaran atau renovasi candi akibat gempa Jogja pada tahun 2006 yang sangat fatal dirasakan. 
Sekarang sudah tahu, kan?

3. Istana Ratu Boko



Adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran yaitu sekitar abad ke-8 oleh salah satu pendiri Candi Borobudur. Bangunan ini merupakan salah satu kemegahan di bukit penuh kedamaian. Di karenakan dari sini anda dapat menikmati pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Berapi yang digunakan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual.

Ohya,  ini jadi salah satu lokasi syuting film AADC 2 lho. Pantesan! Karena menurut saya Candi Ratu Boko ini menjadi tempat terbaik untuk menikmati senja.

Mengapa saya bisa sampai disini? Yap, bertepatan saat itu saya sedang menjalani Prajabatan CPNS di Kota Jogja, dan untuk off class-nya saya dapat di daerah Kalasan bersama teman-teman yang lain.

Seingat saya, saat itu saya dan sokon (Sodara Kontingen), Febry namanya, sepulang kantor berinisiatif meminjam motor di ibu kos untuk pergi ke lokasi Candi Ratu Boko ini. Bermodalkan google map kami melaju bersamaan dengan akan pamitnya mentari pada bumi. Lokasinya lumayan jauh untuk kami yang baru pertama kali kesana.

Nah, bagaimana nasib senja kami? Yuhuuu..mentari benar-benar tenggelam saat kami tiba. Air wajah kami tidak menutup rasa kecewa. Untuk mengobati, kami berdua tetap menjelajah setiap sudut candi dengan naik beberapa anak tangga. Daaan, dari atas sungguh ciptaan Allah tak ada tandingannya. Sesaat mentari tertelan, muncullah auroranya yang melukis indah di daratan langit. Masya Allah. Kami pun tak ingin tertinggal lagi. Segera ambil hape, bergaya dan cekrek.

Kalau kamu ingin menikmati senja di Boko pasti tidak akan kecewa. Karena keindahannya teramat membius.




4. Candi Kalasan


Atau disebut juga dengan Candi Kalibening, merupakan candi Buddha tertua di Jogja. Bangunan megah buatan Wangsa Syailendra yang berbentuk bujur sangkar yang di beberapa sisinya dihiasi ceruk-ceruk tempat meletakkan arca; ini tak semegah Borobudur atau Prambanan yang memiliki area yang lebih luas. Tersembunyi di antara perkampungan penduduk. Ini memang diperuntukkan sebagai tempat suci untuk pemujaan terhadap Dewi Tara. 


Nah, teman setia jalan-jalan mencari lokasi baru di Kalasan adalah Febry. Dia lagi? Yap, karena kami berdua doyan jalan ke tempat-tempat baru yang low budget. Hihii...

Untungnya candi Kalasan ini lokasinya tidak begitu jauh dari kos-kosan kami. Hanya bermodal GPS langsung sampai. Kami perginya sore hari setelah pulang kantor. Kami benar-benar memanfaatkan waktu yang sedikit untuk keluar. Karena permasalahan utamanya adalah kendaraan. Motor ibu kos is the best lah. Hihii...



5. Candi Sambisari


Pertama kali ditemukan terpendam oleh material vulkanik Gunung Merapi, oleh karena itu jangan heran bila berkunjung dan melihat letak candi berada dibawah permukaan tanah.

Yang menarik dari candi ini adalah adanya batu-batu pipih seperti umpak yang berada di selasarnya (candi induk). Dan tidak perlu harus berpanas-panasan untuk menikmati keindahannya, karena terdapat taman indah yang menjadi pilihan yang cocok untuk duduk dan bersenda gurau dengan kawan-kawan.


Kunjungan saya bersama Febry kesini bersamaan hari dengan kunjungan ke candi Kalasan dan candi Sari. Ini yang ketiga untuk sore ini. Luar biasa kan? 

6. Candi Sari


Merupakan candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambisari. Letaknya pun berada ditengah perkampungan penduduk, sama halnya dengan Candi Kalasan atau Kalibening. Diperkirakan bahwa candi ini satu zaman dengan candi Kalasan yaitu dari abad Masehi. Adanya pembagian ruang mengindikasikan bahwa Candi Sari digunakan sebagai vihara (asrama pendeta). 


Kalau tidak salah kami hanya membayar Rp 2.000,- untuk biaya parkir. Candi ini dijaga oleh seorang satpam. 




Komentar