Esok Hujan Lebih Menjanjikan Kisah


Aroma secangkir cappuccino menusuk hidung. Hangat. Gumpalan bubuknya memenuhi ruang cangkir. Adalah minuman utama kafe ini. Di temani beberapa potong roti, membuat perut kecil sedikit membuncit. Ketebalan sweater terasa sedikit membuat kulit tak mengkerut. Hujan diluar menambah suhu di ruangan semakin dingin. Tegukan terakhir dari secangkir cappuccino membuatku mengangkat tangan untuk memesan kembali.

Udara sore menambah keramaian kafe kecil ini yang berada di sudut kota.

Terlihat kendaraan memperlambat laju karena jalanan melicin. Warna-warni payung berjalan dibawah rerintikan hujan. Sementara, kaki-kaki lincah bergerak cepat diatas genangan air. Daratan langit seakan enggan mengurangi guyuran lembutnya. Tak ada alasan untuk membenci hujan. Bau khas yang selalu tertinggal di tanah. Jejak-jejak kaki yang lumayan dalam. Uujung sepatu yang basah. Membuatku hanya mendongakkan kepala menatap tempat Yang Esa bertahta.

Kehangatan mengaliri tenggorokanku. Tersisa setengah cangkir lagi. Arlojiku menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Ada sekitar satu jam lebih aku menghabiskan sore di hari kesepuluh Februari ini di Sore Sore Cafe.

Kafe dengan nuansa hitam putih seperti papan catur ini menambah temaramnya sudut-sudut kafe. Bidak-bidaknya meneguk ringan minuman di atas papan catur. Hampir seluruh meja terisi. Begitu syarat keheningan. Semua menikmati suguhan masing-masing. Di Italia, cappuccino hanya boleh di minum sebelum waktu siang. Indonesia? Kapan pun bisa. Itulah alasan mengapa aku berada di sini. Lengkungan bibirku bermain di ujung cangkir.

Lambaian tangan sama halnya dengan pelayan harus berdiri disampingku. Pesanan yang sama. Dua menit tak terasa berlalu. Mejaku berantakan dengan tas; gadget tak terhiraukan lagi; ujung buku menyembul keluar dari dalam tas. Aku baru ingat, itu buku yang selalu Ayah selipkan ke dalam tasku bila bepergian.

“Lebih baik bosan membaca sederetan huruf yang terangkai kalimat, asal apa yang tersirat di dalamnya terekam di memori ingatan.”

Begitulah kata-kata Ayah setiap kali aku mengerutkan kening ketika melihat isi tas.

Membaca merupakan satu kata yang terpikirkan pun sudah membosankan. Mataku terkadang menikmati apa yang tertulis dalam buku, dan lebih terkadang cukup untuk segera kututup. Sekarang? Aku sedikit sudah mulai terbiasa dengan hal-hal yang berbau “membaca”. Kedua telingaku terpasang headset. Ringan mengikuti irama lagu yang bergenre R&B. Kuambil satu potong permen karet, lalu mengulumnya.

Masih muda tapi mataku sudah terasa sedikit rabun. Buku dari Ayah, aku baca sedekat mungkin. Alhasil, aku pun tidak dapat melihat pengunjung yang lain. Dari balik buku, sesaat aku cekikikan sendiri. Dan, lima menit kemudian suaraku sudah menggelegar. Tak terasa bibirku juga mengikuti alunan lagu dari gadget.

Kuteguk lagi cappuccino yang sudah agak mendingin itu hingga tak tersisa lagi. Baru akan mengganti lagu, dari bawah buku bacaanku tiba-tiba selembar tisu tersodor kearahku dengan tulisan “HAI”.

Dengan cepat aku menurunkan buku bacaan.

Saat ini dihadapanku sudah duduk dengan manis seorang lelaki asing. Eh, bukan asing. Aku mengenal wajahnya, tapi aku belum tahu namanya saja! Dia laki-laki teman sekelasku. Rambut keritingnya yang sebahu terlihat begitu berantakan. Ada sedikit anak janggut di bawah bibirnya. Mata tajamnya menatapku seakan ingin menelanku pelan-pelan. Kerutan di keningku membuat laki-laki itu yang pertama membuka suara.

“Hai!” sapanya singkat.

Aku hanya memicingkan mata. Melihatnya seperti seorang tersangka yang sedang dipaksa untuk berkata jujur di depan para pemeriksa.

“Oh, ya. Aku Dion.” Lelaki itu mengulurkan tangannya.

Tanpa ekspresi, mataku hanya menatap dua detik tangan besar itu, lalu kembali melihat wajahnya.

“Harus duduk disitu?” Aku mulai jutek.

“Penuh semua.” Terlihat ia memperbaiki posisi duduknya.

Aku mengikuti arah matanya yang mengarah ke seluruh meja. Semua kursi memang sudah ada penghuninya. Bahkan dihadapannya sudah ada secangkir kopi panas yang sedang mengepulkan asap.

“Sudah berapa lama kamu duduk disitu?”

“Lima menit yang lalu.”

Ponselku pun tiba-tiba berbunyi. Tak kuhiraukan lagi lelaki itu. Di layar ponsel, nama Ayah muncul lengkap dengan fotonya yang tersenyum sumringah. Hembusan panjang nafas pertanda jemariku berat untuk mengangkat telepon dari Ayah. Kubiarkan saja ponsel itu bernyanyi ria, tanpa mengangkatnya.

“Mau kopi?”

Aku mendongakkan wajah. Lelaki itu mencoba menawarkan minumannya. Sesuatu yang semakin membuat wajahku melengos.

“Tidak. Minumanku masih ada.”

“Gelas kamu kosong loh!”

“......”

Mataku dengan cepat melirik kearah cangkir pesananan. Wajahku memerah setelah melihat minumanku benar-benar tidak tersisa lagi. Lupa plus-plus tingkat dewa membuatku ingin menciut menjadi kerdil saat ini juga. Tangan besarnya mendorong pelan cangkir kopi miliknya kearahku.

”Aku tidak haus lagi!”

Kemudian, ponselku kembali berdering lagi.

“Iya, Yah,” jawabku pelan setelah mengangkat telepon.

“Sudah jam berapa ini? Ayah sudah siap-siap di rumah! Acaranya satu jam lagi mulai! Ayah tidak mau tahu, jam setengah tujuh kamu sudah ada di rumah!!!”

Suara dari seberang yang sangat kukenal itu mulai mengomel. Mulutku monyong-monyong mengikuti apa yang Ayah katakan. Kulihat Dion sibuk dengan gadget-nya. Empat puluh lima menit lagi aku harus sudah ada di rumah. Hujan diluar terdengar mulai reda.

“Saabiraaaaa. . . . !!!” teriakan Ayah mengagetkanku.

“Iya, Ayah. . .!” jawabku dengan sedikit menjauhkan ponsel dari telinga.

“Ayah bicara dari tadi kamu dengar tidak?”

“Dengar kok, Ayah. Tenang, Yah. Aku pasti sudah di rumah sebelum Mika datang."

Klik. Aku langsung mematikan telepon Ayah.

Huuf!

MIKA. Nama seseorang yang kebetulan menjadi saudaraku, dan lebih tepatnya adik kandungku. Selisih dua tahun tidak menjadikanku untuk bersikap baik layaknya seorang saudara. Kami tidak pernah akur. Begitu berwarna perbedaan di antara kami. Mika sekarang melanjutkan sekolahnya diluar negeri. Sementara aku, lebih memilih sekolah di tanah kelahiranku. Jangan heran bila keinginan Mika meduduki peringkat teratas dariku. Keinginanku selalu sederhana. Mika orangnya cerewet, sedangkan aku pendiam. Rencana Tuhan sangat bertolak belakang. Dan, hari ini dia datang ke Indonesia, tepat di hari ulang tahunnya yang ke enam belas. Kue tar berbentuk bola sudah siap sedari pagi. Antusias Ayah begitu maksimal mempersiapkan untuk anak laki-laki yang bisa menjadi penerusnya.

Aku hanya berpartisipasi sebagai saudara.

“Hei!”

Dion memanggilku, sepertinya. Wajahku tetap menunduk kearah buku yang belum selesai kubaca.

“Ting! Ting! Ting!”

Kali ini Dion memukul sendok minumnya dibibir cangkir. Aku tetap tidak bergeming. Wajahku semakin jutek. Dan, kerutan keningku bertambah pertanda barisan bacaanku sudah sampai pada adegan klimaks.

“Eheem. . . eheem. . . !”

Batuk pun digunakannya untuk memancing reaksiku. Pengalihan yang sangat gagal. Kulirik arloji. Dua puluh menit lagi. Huh, soreku terganggu dengan kedatanganan Mika.

Dion sepertinya tidak habis akal. Dengan seenak jidatnya, kakiku pun ditendang dengan cukup keras.

“Aww!” ringisku. “Resek banget!” kataku setengah berteriak.

“Dasar sinyal lemot! Di panggil-panggil tidak dengar!”

“Dasar orang aneh!” Aku kembali berkutat dengan buku yang sisa beberapa halaman lagi akan selesai. Sepertinya cuaca tak mendukung. Langit mulai menggelap kembali.

“Kamu masih lama disini tidak?”

“Tidak!” jawabku singkat. Tanpa mengalihkan pandanganku sedikit pun dari buku.

“Bacaan kamu keras juga,” ujar Dion agak mencondongkan badannya. “Your Life. . .  Your Legacy. . .” Dia membaca judul buku yang sedang kubaca.

“Sepertinya buku lama.”

“Buku terlaris di tahun 1991,” kataku tanpa menoleh. “Buku yang buat kamu memang berarti.”

“Iyayayaya, hidup aku berarti. . . hidup kamu berarti. . . hidup semua orang berarti. Selamat membaca!”

Ia pun kembali sibuk dengan dirinya.

Sekarang rintikan hujan hanya terdengar sayup-sayup mengirim desauan angin dinginnya ke dalam ruangan kafe.

Klik.

Dion memfokuskan sesuatu pada kameranya. Ekor mataku menangkap tangannya yang sedang sibuk. Aku tak ambil pusing.

Klik. Klik. Klik.

Kali ini bunyi kameranya bukan hanya sekali. Aku mulai merasa terganggu. Kudongakkan wajah, tepat ketika tangan Dion mengarahkan kameranya. Lebih tepatnya kewajahku.

“Jangan sembarangan foto ya.”

Dion menurunkan kameranya. Tanpa langsung menjawab pertanyaanku. Dia malah asyik melihat hasil bidikannya.

“Kamu punya telinga, kan?”

“Eh, em, tadi kamu bilang apa?”

“Tadi kamu foto saya, kan?”

Dion menaikkan sebelah alisnya. “Kamu sakit?!”

Keningku berkerut. Telapak tangan kutempel dijidat. Terasa dingin.

“Bukan jidat kamu yang panas, tapi isi otakmu! Yang ada kamera malah rusak kalau objeknya kamu!”

“Sialan! Yang ada muka saya yang rusak gara-gara kameramu!”

Jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Tak selang berapa lama, ponselku kembali berbunyi. Ayah. Sengaja kubiarkan tetap berbunyi. Diluar hujan turun lagi, tetapi tidak begitu deras seperti tadi. Sepedaku tertata rapi diantara roda dua lainnya. Tak ada pilihan lain, hujan pun harus kuterobos.

 

***

 

Ujung lilin yang berbentuk angka enam belas menyala-nyala diatas kue tar. Senyum merekah tergambar jelas di wajah Ayah. Mika tak lupa memasang wajah “termanisnya” yang begitu terlihat menyebalkan dimataku.

“Oh, sudah mulai, ya!?” ketusku, dan mengambil bagian disamping Ayah.

“Kamu kemana saja sih, Saabira?” tanya Ayah, tapi wajahnya tetap mengarah ke Mika.

“Nyari udara segar saja, Yah!”

“Lain kali kalau ada acara penting seperti ini seharusnya kamu sudah stand by dari tadi!”

Aku memilih diam. Tidak menanggapi perkataan Ayah.

Mika menutup matanya rapat. Make a wish! Huuuh, bisa tidak permohonannya itu di tulis saja. Gila, hampir lima belas menit Mika memejamkan mata. Tidur apa kesambet itu?!

“Kamu doain semua orang yang ada di dunia, kah?” celetukku sambil menengadahkan kedua tangan di depan dada.

Hembusan nafas Mika memadamkan lilin yang menyala-nyala, sekaligus mengantarkanku tenggelam dibalik selimut. Ah, senangnya malam ini hujan turun semakin deras, sehingga mataku terlelap lebih cepat mengakhiri malam ini. Semoga esok hujan lebih menjanjikan kisah yang kusukai.

 

Komentar