Dia, Lelaki Pertama (Cerpen Kelima)
Dia, Lelaki Pertama
Oleh: Ery Nuryanti
Vector Publisher, September 2016
Tanganku tak
henti-hentinya menarik lapisan kain yang menutupi jendela kamar. Bukan karena
diluar matahari sedang menyoroti penuh sinarnya. Bukan pula karena diluar
langit sedang bocor menumpahkan tetesan kedinginannya. Dan, sangat juga bukan
karena Mama dan Papa yang lagi mengawasiku dari luar.
Aku tidak
mengenalnya. Tapi, sepertinya dia seumuran denganku. Wajahnya tidak
menyeramkan. Suaranya pun tidak membuat pendengaranku terusik. Yang kutangkap,
dia mencoba ingin berteman denganku. Kesalahan, aku tidak tahu namanya. Mataku
mencoba terpejam, sesaat. Menerobos alam bawah sadarku. Lekukan wajah yang
diselimuti lengkungan manis itu bermain samar diingatanku. Rintihan di dadaku
menginginkan waktu kemarin terulang, lagi. Tentunya dengan suasana yang lebih
mengena.
Kejauhan,
kulihat sekumpulan sayap-sayap putih itu setia dengan dahan yang sama. Kakiku
terasa gatal ingin menghampiri sayap itu dan membawakan makanan kesukaan
mereka. Kentang goreng. Detak jarum dinding masih menunjukkan waktu
untuk pagi hari. Usapan mataku menandakan wajahku masih kucel tanpa sentuhan
air sejak tadi. Hembusan nafas busukku memerintahkan kaki jenjangku untuk
melangkah ke lantai dingin itu lagi.
Tak perlu
cukup lama untuk memberikan kejutan pada kulit sensitifku di pagi hari.
Terlihat
besar karena bentuknya yang mengembung, tapi begitu pas di pinggangku. Kaki
jenjangku kini tertutupi kembungan celana hitam panjang. Tak ingin melewatkan
warna merah yang menutupi tubuh rapuhku. Setelan blus merah terang
kutarik dari barisan hanger yang berjajar rapi dalam lemari. Rambut
sengaja kubiarkan terurai karena sedang dalam masa perawatan dari kepatahan
yang kusengaja.
Dinginnya
anak tangga kutapaki perlahan. Aku tak ingin membuat kehebohan orang tuaku bila
kujumpai mereka sedang bersenda gurau di ruang keluarga. Pemikiranku meleset.
Tak ada siapa-siapa. Yang kutemui hanyalah sebaris tinta hitam yang tertuang
diatas putihnya kertas lusuh, diletakkan sengaja di atas meja. Mataku hanya
menangkap sesaat.
Mama dan Papa pergi menemui Nenekmu
yang sedang sakit di kampung.
Tertanda,
Mama dan Papa yang menyayangimu
Benar-benar keluarga yang tak masuk akal. Apa mereka berfikir aku juga bukan bagian dari Nenek? Apa mereka berfikir untuk menjauhiku juga dari Nenek? Apa mereka pikir aku orangnya dingin yang tak berperasaan? Aku ini sebenarnya apa? Apa aku manusia yang harus terisolasi agar tak mengganggu kenyamanan dunia orang lain?
Entahlah.
Kata yang mengisyaratkan kebimbangan. Kata yang mengisyaratkan keputus asaan.
Kata yang mengisyaratkan kebodohan dalam memilih. Kata yang mengisyaratkan
tidak salah dan tidak benar juga. Kata yang mengisyaratkan kamu masih memiliki
kata pembelaan.
Tik.
Setetes air
mendarat sempurna di tanganku. Terasa hangat menyentuh kulit. Tak hanya sekali,
bahkan berkali-kali. Apakah Tuhan sedang membuka gembok langit untuk
menumpahkan luapan airnya di teriknya siang?
“Langit lagi
gak bocor, tapi kok ada yang basah, ya?”
Suara asing
itu kembali. Kali ini terdengar memojokkan. Wajahku menoleh kearah kiri dengan
cepat. Lekukan wajah yang sama dengan garis bibir yang masih melengkung manis.
Rambut ikal yang mulai sedikit merapi, terlihat dari garisan pinggir rambutnya.
Tak lupa balon kuning yang sekarang ia bawa bertambah satu menjadi dua buah. Ia
berdiri dengan sedikit membungkukan tubuhnya kearahku.
Wajahku
terasa memerah. Punggung tanganku bergerak cepat mengusap air mata bodohku.
“Eits, tunggu
dulu!”
Lelaki itu
menarik tanganku dengan cepat, dan terasa kasar untuk waktu yang singkat.
“Sentuhan
punggung tanganmu bukan menghilangkan air terjun yang kamu buat. Melainkan
malah membuatnya semakin menjadi.”
“Maksud
kamu?” Keningku mengerut jelas.
Lelaki itu
mendudukkan tubuhnya disampingku. “Menurut penelitian keseharian aku, ya.
Ketika air mata jatuh dan menyentuh kulit itu membuat semacam sensasi
memancing. Bukan memancing di air keruh atau air apalah itu,” Lelaki itu
coba menjelaskan sesuatu ilmiah yang antara bisa di percaya atau tidak.
“Terus aku
harus gimana? Mataku sudah berat banget nih,” kataku mengerjapkan kedua mataku
yang basah.
“Mau tahu
caranya?”
Aku hanya
menaikkan kedua bahuku sebagai jawaban.
“Tuhan
menciptakan matahari bukan hanya untuk membuatmu silau. Tapi, matahari pun
dapat menghapus jejak tangisanmu.”
Dia
menyampingkan tubuhnya, membuat tubuhnya mengarah aku. Sebelum mengizinkan dan
tak semudah itu untuk aku izinkan, dia spontan memegang wajahku dan mengarahkan
agak sedikit mendongak. Lebih tepatnya wajahku menatap sinar matahari secara
langsung.
“Ini cara
menghapus tangisan atau membuat wajah aku menjadi gosong?!”
Lelaki itu
malah tertawa. Terdengar renyah. Gigi putihnya berbaris rapi. Matanya hanya
terlihat segaris. Menggambarkan rasa tawa yang ia lakukan sekarang.
“Tengadahkan
saja wajahmu,” perintahnya, yang aku mau saja ikuti.
Tamparan
silau matahari membuatku seperti cacing kepanasan. Cara konyol yang dengan
polosnya aku lakukan. Ingin rasanya mulutku terbuka dan tertawa dengan
kekonyolan baru ini. Lagi, lagi, dan lagi kata-kata entahlah itu
kupergunakan untuk mengesampingkan kewarasanku.
Keteduhan
mulai kurasa. Sengatan yang mengalir di nadi wajahku kini mulai terbiasa.
Lentikan bulu mataku masih nyenyak oleh kehangatan, tanpa ingin
berkedip. Nafas yang kuhirup saat ini adalah hirupan ketenangan. Aku ingin
sekali menghilangkan jejak tangisan ini hingga tak akan muncul lagi.
Prok!
Tangannya
bertepuk ria tepat menusuk gendang telingaku.
“Air matamu
bukan hanya hilang, tapi bisa jadi kering kerontang nanti kalau kelamaan.”
Suara jelasnya memperingatiku.
Terima kasih
Tuhan, Kau telah mengirimkan seseorang yang setidaknya mau mengajakku
berbincang. Hatiku tak pernah merasa ringan menerima hari-hari yang Kau
janjikan akan semenarik teriknya bola emas itu muncul dengan aturan waktu-Mu.
Mungkin bintang-bintang yang mampir sebentar di langit malam-Mu akan
menertawakan kesepianku ini. Dan, mungkin juga tiupan angin akan seenaknya
menerpaku ketika melihat hariku yang terisi oleh kemirisan yang kujalani. Detik
yang berputar menertawakan waktuku yang terasa sia-sia. Dinding-dinding yang saling
berbisik bahwa tak ada hal menarik dalam permainan garis tanganku. Hanya senyum
kekalahan yang kutawarkan dalam hari yang selalu berganti.
“Ah, lihat
burung-burung itu akan menyerangku,” Dia mengatakan hal yang membuatku
menyipitkan mata.
“Mereka bukan
burung pemangsa,” balasku membela sayap putih itu.
Lengkungan
bibir tipisnya tergambar sinis. Tangan kirinya memerintahkan aku untuk ambil
alih memegang balon kuning yang selalu ia bawa. Sementara, tangan yang satunya
lagi sibuk merogoh isi plastik hitam yang entah apa isinya.
“Taraaa. . .!”
“Taraaa. . .!”
Gigi putihnya
berjajar rapi ketika berucap kejutan padaku. Pipi besarnya hampir menutupi
matanya yang terlihat menyipit. Tangan besarnya menyodorkan sesuatu yang
membuatku takjub. Kentang goreng.
“Aku selalu
melihatmu memberi kentang goreng kearah makhluk sayap putih itu,” ujarnya
melihat rautan gelombang pada keningku.
“Oh, ya. Baru
beberapa kali saja.”
Aku mencomot
lima batang kentang goreng dari genggamannya. Pertengahan hari ini sedikit
membuat perutku terasa kosong. Diam dalam gurihnya kentang goreng itu aku baru
tersadar bila kami belum ada yang saling mengenal nama.
“Hanna!”
kataku memulai perkenalan terlambat kami.
“Rama!”
jawabnya menggenggam erat tangan kecilku.
TAMAT
NB: Berhubung bukunya belum proses
pencetakan jadi monggo dibaca yang ini dulu ya (salah satu kumpulan cerpen
dalam Event “SEPI”)
pernghargaan sebagai Kontributor

Komentar
Posting Komentar