Praha Membius Ingatan (Cerpen Kedelapan)

WA Publisher, Maret 2017


Dua puluh tiga derajat celsius, membuatku untuk tak lupa merekatkan dekapan tangan kurus-kurus di depan dada. Cuaca kehangatan di luar tak mencairkan rasa dingin di dalam kereta. Gigitan besar pada Burger King di tangan kanan, tak mengubah perutku yang masih ada ruang lapar. Sesekali serutan kopi hangat yang aku beli sebelum berangkat tadi. Mendorong cepat kunyahan burger di mulutku. Musim panas di pertengahan September ini tak berpengaruh dengan setelan dress rajutan berwarna biru pudar, melekat di tubuhku. Ujung jemariku masih terasa kaku dan pucat. Mungkin mesin pendingin lagi berputar gairah.

Rautan wajah penuh rencana terlihat pada sederetan penumpang yang ada di depanku, samping kiri-kananku. Jari jemari yang sibuk dengan gadget. Lipatan koran yang terpampang tak begitu jauh dari wajah penumpang yang membaca. Gayungan tangan kiri atau kanan pada penumpang yang tak mendapat jatah bangku. Selain itu, rasa kantuk yang tak terbendung menyebabkan beberapa penumpang dengan seenaknya merebahkan kepala mereka di bahu penumpang lainnya. Penumpang kereta pagi ini cukup padat.

Tut. Tut. Tut.

Ponsel jadul berwarna gelap itu mengeluarkan bunyi seperti bel kereta api. Sudah kuatur sebagai nada SMS. Satu pesan dari Tante Rumi. Segera kubaca.

"Aisya, kapan tiba di Praha?"

Aku memalingkan wajah ke arah jendela kereta, tanpa berniat menekan tombol "balas". Hembusan berat membuatku segera memasukkan kembali ponsel jadulku ke dalam tas. Gigitan terakhir Burger King, di lanjutkan serutan dalam pada pinggiran gelas kopi yang mulai mendingin; membuat perutku terselamatkan untuk pagi ini.

Praha. Kota yang tidak pernah benar-benar terlalu panas atau terlalu dingin sepanjang tahun. Aku ingin segera terjebak dalam keindahan Praha. Melepas lelah di kursi-kursi taman yang dikelilingi bunga dan suasana burung yang bebas terbang. Aku ingin bermain liar di sungai jernihnya yang memantulkan cahaya. Dimana setiap sudut kotanya terlihat bersih, berwarna dan segar. Huft. Aku ingin membius ingatanku hingga tak berbekas.

Terasa ada sedikit penyesalan karena aku hanya membeli satu. Padahal tubuh kurusku masih siap menampung makanan lebih di dalam usus kecilku. Pantas saja, jarum jam tangan telah mengarah ke angka sepuluh, menunjukkan waktu di Praha. Matahari pasti dengan gagah bertengger di Langitan Tuhan, sana. Yang aku tahu, waktu tepat ketika berniat ke Praha adalah Maret hingga November. Dan, aku memilih September bukan karena cuaca yang tepat; melainkan saat hati yang tepat.

Dalam detik waktu yang menunjukkan bagian Praha, tiba-tiba tetesan air mata jatuh di pipi mulusku, membuat tersadar bahwa aku masih "lemah". Kontrolan perasaanku menembus kembali jejak kenangan yang sudah aku keramatkan dalam memori lupakan. Perih tak terbendung dalam luapan hangat air mataku. Aku meremas ujung dress rajutan yang kukenakan, sebenarnya itu tak menghasilkan kelegaan. Ketukan kaki pun bersuara tak beraturan dalam sepatu kulitku. Samar. Cukup membuat penumpang di sebelahku terusik. Ia, seorang wanita tua berwajah asli orang Praha.

Lembaran tisu itu kini telah basah tak berguna. Basah dari air mata keterpurukan perasaanku yang tak berujung. Air mata itu pasti merasa malu saat mengetahui siapa yang menariknya. Payah untuk suasana Praha yang tentunya cukup menyenangkan, saat ini. Aku bukan ingin berlari, belakangan ini. Tapi aku tidak tahu ingin memberi jawaban apalagi untuk membuat pelontar pertanyaan itu ikhlas menerima jawabanku.

Sebenarnya wajahku sangat menarik dengan kulit sawo matang. Bibirku tak pernah absen dari senyuman ketika berpapasan atau berhadapan dengan orang lain. Hingga tak ada yang menyangka bahwa aku sudah mencapai masa hidup di angka dua puluh enam tahun. Sangat matang, kan? Aku juga berpikiran seperti di kepala-kepala orang lain. Tapi, Tuhan berpikiran untuk belum memberiku pendamping masa depan. Rencana indah yang tak bisa aku tebak.

Tiga bulan belakangan ini aku sering mengirimkan keluhan setiap minggu untuk seorang teman. Andre. Itulah namanya. Ia seorang pelajar dari Indonesia, yang sedang menempuh pendidikan di Charles University, jurusan Fakultas Seni; semester akhir. Usianya lima tahun lebih dariku. Aku dan Andre lebih menyukai berkomunikasi melalui email.

Permasalahan kami berdua sama. Dituntut untuk mencari pendamping hidup. Ibunya yang sering sakit-sakitan menginginkan Andre segera memiliki istri. Sementara aku, Mama yang sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu, terlebih aku adalah anak sulung.


"Bagaimana kabar hatimu, Aisya?"

Pertengahan Februari aku menerima email dari Andre. Bertepatan saat itu suasana hatiku sedang gundah. Karena kali ini Ayah juga menginginkan hal yang sama seperti Mama. Pusing.

"Masih belum menemukan arah, Andre." Sebaris kalimat berwarna hitam itu kuketik perlahan. Kutarik nafas dalam-dalam, agar tak terasa pilu aku membalas email itu. "Bagaimana kabar Ibumu?"

"Masih dengan keinginan yang sama. Ibuku semakin terpuruk karena permintaannya belum bisa kupenuhi."

"Aku ingin ke Praha, Andre."

"Hah? Buat apa? Apa yang kamu cari disini? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa akan diberi izin oleh atasanmu? Dan, berapa lama?"

"Pertanyaanmu semakin membuatku pusing. Semua sudah kupikirkan matang-matang. Aku ingin membuang penat sejenak. Hanya lima hari. Dan, aku lihat Praha memiliki semuanya "

"Kapan kamu akan kesini?"

"September. Ketika cuaca Praha cukup menyenangkan, Andre."

Aku sangat menikmati situasi senja nan mistis, kaku, dan tua di tepian Sungai Vltava ini. Rasanya aku ingin segera minum kopi di Slavia Cafe. Atau, meminta Andre menemaniku menghadiri konser di Rudolfinum. Begitu banyak list yang kupersiapkan ketika Andre datang nanti. Karena aku agak sedikit penat dengan situasi di sekilingku.

Pundakku tertepuk lembut, membuatku menghentikan lantunan Canon ini D dari Pachelbels. Musik klasik terbaik untuk kota terindah seperti Praha. Ia sudah berada dihadapanku. Ya, beberapa menit lalu Andre berkata kemungkinan ia akan telat menemuiku karena ada yang sedang diurusnya. Aku tersenyum melihatnya. Ia pun membalas senyumku, sembari menunjukkan sesuatu.

"Kamu sudah lulus?"

"Ya, Aisya. Sebulan yang lalu."

"Kenapa tidak cerita?"

"Aku lebih tertarik dengan ceritamu."

Andre tertawa. Ia menahan goncangan perutnya yang sedikit membuncit. Sementara wajahku menekuk mencoba merajuk mendengar jawabannya.

"Oh..ya, Aisya. Apa yang kamu cari disini selain membuang kepenatan?"

"Tidak ada. Aku hanya ingin sementara menjauh dari segalanya."

"Apa sekarang sudah terbuang?"

"Tidak secepat itu, Andre."

Aku menarik selembar piagam dari genggamannya. Yah...Andre telah dinyatakan lulus. "Kamu bisa pulang kampung. Dan memenuhi permintaan Ibumu. Semangat!"

"Begitu juga kamu "

"Ya, tapi mungkin akan lama."

"Aku akan membuatnya cepat, Aisya."

"Hah...maksud kamu?"

"Aku tidak ingin membiarkanmu membuang kepenatanmu sendiri. Kalau bisa aku bersedia menanggung kepenatanmu juga. Aku mencintaimu, Aisya."

Oh, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, tidak pernah. Aku memang lelah, hingga aku ingin menghapus kesedihanku disini. Namun suratan berkata lain, aku malah menjemput awal kebahagiaanku disini. Jawaban yang aku "iyakan" untuk bersama Andre. Mungkin ini pertemuan hatiku di belahan jantung Eropa ini.


                                TAMAT

Komentar