Swan Keramas (Cerpen Ketiga)
Kaifa Publishing, Februari 2016
Enam angka terakhir di bulan penghujung
tahun kini tersilang bertinta merah. Lekukan angka itu masih berusaha terlihat walau
ditempa tinta merah, yang sengaja kugoreskan sebagai petanda. Warna yang
terpatri sebagai penantang tandukan banteng itu tak beda jauh dengan kerutan
kening yang diakhiri dengan lengkungan licik di ujung bibirku. Kakiku akan
berleha-leha terlepas dari belenggu kertas-kertas berbendel surat di kantor.
“Hallo.”
Suara kerasnya yang kutahu itu bermaksud
lembut, terdengar dari seberang.
“Dua empat aku berangkat, sayang.”
Sahutan suaraku berakhir dengan balasan,
“Ya, sayang. Sampai bertemu di Bali.”
Itu setelah beberapa jam yang lalu,
menjadi prolog pertemuanku dengannya.
Abe. Tiga huruf terkeramat dalam
pikiranku. Lelaki yang hadir tanpa sengaja, dan tak kubiarkan menghilang tanpa
jejak. Lelaki yang melahirkan pepatah menggoda di setiap perjumpaanku
dengannya. Mahkota jarak jauh membuat pembatas kericuhan angan terpendamku.
Seri terekam menggulirkan waktu bersama bekunya bintang, yang bertengger di
penghujung seraknya kesetiaan para binatang malam. Hingga fajar tiba ia tak
akan kulepas lagi.
Kini tak ada penghalang. Keberadaanku
terasa lekat melihat lentik bulu matanya yang menatap tajam seluruh ragaku. Aku
tahu tak akan ada yang berubah. Sengatan lembut tubuhnya berbicara “mari
habiskan malam ini bersamaku”.
Sepanjang jalanan melicin selepas serbuan
air bertubi-tubi dari langit. Hujan di penghujung tahun tak pernah kikir untuk
merintikkan tangisan langit. Membuat tanah berpori dan meninggalkan bau khas,
yang tak pernah kusukai. Tangan kokohnya berusaha mejauhkan rintikan terakhir
itu agar tak mengenai helaian rambutku. Decitan ban mobil di atas basahnya jalanan
tak akan memudar karena sambutan lembut dari langit Dewata malam ini.
Tubuh rampingku terbawa senandung hentakan
sepatu flat yang bercipratan dengan
genangan di trotoar. Punggung kekarnya menjagaku dari depan. Para penikmat
angin malam tak ingin terkalahkan, jejak tubuh rapuh mereka terus
berlalu-lalang. Tangan dinginnya mulai meraih bekunya jemariku. Genggaman itu
mengintimidasi aliran darahku. Rasanya bertumpuk-tumpuk selimut tebal yang aku
lilitkan pada tubuh, ditambah dengan sepasang kaos kaki bermain di ujung jempol;
masih terkalahkan dengan sentuhan kecilnya.
Kepulan tipis bermain di bibir cangkir
kopi hangat pesanan Abe. Sementara aku, menikmati setiap tegukan teh hangat yang
bermain peka di ujung lidah. Kopi dan teh? Akan menjadi awal cerita pembeda kami.
Tetapi, tak ada yang perlu kurisaukan. Itu hanyalah gelitikan ego di atas
logika. Kehangatan yang tercipta dari keduanya akan menjadi akhir pembeda kami.
Gradiasi pelangi saja tercipta dari
kesengajaan Tuhan mempertemukan sengatan matahari yang sedikit memudar tertimpa
hujan. Lalu, songsongan mentari pagi yang mengejar fajar untuk berbagi
kehangatan; dan kerelaan mentari menatap langit menggelap di langit barat. Alam
saja berbicara untuk membuat pembeda itu menjadi pemanis dunia fana ini.
Bukan menjadi benteng penghalang seruan
naluri yang menggebu di antara perkasanya dua insan yang berbeda. Sayatan hati
lebih bermain diliarnya kerlingan mata yang menuntun genggaman itu lebih
melekat.
Aku siap dibawa ke alam bawah sadarnya.
Tetapi, apakah dia juga siap untuk
menghabiskan nafas terakhirnya bersamaku?
“Mau coba kopi hangatku, sayang?”
Abe membuka percakapan di antara kami.
Tiga jengkal menjadi pembilang jarak kedinginan
malam di Swan Keramas. Villa di daerah Keramas dengan simbol tiga patung monyet
di gerbang sambutan. Singgah pelepas peluh ditemani patung-patung swan yang siap menerjang ombak. Tepatnya
aku sekarang sedang menghabiskan waktu dengannya pada bangunan yang sengaja
terpisah dengan villa utamanya. Sebut saja khusus tempat dinner kami.
Kursi-kursi pun telah terisi oleh para
penikmat malam, ditemani ganasnya angin laut.
Aku tak pernah berpikir bahwa kita bisa
melewati jalanan berlubang menuju tujuan terakhir kita. Banyaknya penanggalan
mengantarkan pada awal kita menulis janji kesepakatan bulir-bulir cinta yang
terdengar penuh kepastian. Waktu bukanlah hutang yang terus mengejar untuk
mendapat pembayaran. Waktu adalah resahan hubungan yang bermain di antara
kelunya lidah yang terlanjur berpacu pada janji berbagi hidup. Tetapi, tenang!
Aku tidak akan mempertanyakannya hingga kamu sendiri yang mengesahkannya.
“Kamu juga mau mencoba teh hangatku?”
Pembalasan kata yang tak kusengaja. Serutan
kuperdalam hingga membuatnya menatapku lebih lama. Suguhan rintihan penuh rasa
tanpa titik koma bersenandung direkahnya para swan yang tersenyum menunggu tamparan ombak.
Dia tahu kalau aku tidak suka minum kopi.
Hanya menyukai kopi dalam bentuk kepulan uap kenikmatan yang bergulung dalam
hidung kecilku. Tawa renyahnya menggoda telingaku mendengarnya. Detik melambat
memuaskanku menyimpan sesaat getaran rendah yang dibuainya. Tubuhnya mendekat;
menopang dagu yang tersirat kerinduan.
“Hujan membuat malam kita terasa melambat,
sayang.” Tegukan terakhirnya disambung dengan hisapan mendalam dari ujung
batangan bernikotin itu. Tarikan bibirnya diselesaikan pada hembusan
menyesakkan melalui hidungnya.
“Nafasku lebih terasa melambat saat kamu
terdiam, sayang. Tetapi, tatapanmu bermain liar pada teduhnya mataku. Apakah
aku selalu menimbulkan tanda tanya, sayang?”
Senyuman di bibirnya yang menerangkan.
Malam ini sepertinya dia terlihat tak banyak berkata. Aku tahu, kata-kata bukan
menjadi penghubung rasa yang menyirat. Tetapi, sendu matanya saat beradu dengan
mataku, disitulah desiran penuh makna tercipta. Seperti gulungan ombak yang
berkejaran ingin mencumbu pinggiran pantai. Saat hempasannya memuaskan pasir
membasah. Dan, menunggu pasang kembali datang menuntun tumpahan gelombang yang
lebih tinggi.
Cupingku terasa menggelitik, ketika ujung
bibirnya melafaskan kata singkat tepat di telingaku. “Jangan bosan untuk malam
selanjutnya, sayang.”
Kedekatan itu menguasai batinku. Semilir
angin malam berlalu begitu saja saat senyumku terkembang.
Aku pun tak ingin mendiam. Setengah
wajahku tertutup. Mata kananku terpejam sesaat pada bisikan yang kubalaskan
padanya. “Aku tak akan bosan, sayang. Mungkin malam yang akan bosan karena
cemburu melihat kita.”
Tawa riuh bergantian dari meja satu ke
meja yang satunya. Dentingan botol-botol beralkohol berkumandang nyaring. Pertukaran
cerita yang terdengar antusias. Bergiliran dengan desahan panjang menahan kocokan
perut dari gelak tawa kerabat.
Tak..tik..tuk...
Dentuman sepatu pelayan mondar-mandir
membawa pesanan.
Merugi bila malam ini tak ada hal
terkhusus yang kita lakukan dipenghabisan kegelapan. Rintihan binatang malam
mulai beraksi dengan gagah. Deburan ombak panjang pun masih setia dengan
kerakusannya mengenai bibir pantai. Helaian rambutku tak ingin ketinggalan
mengikuti alunan angin malam. Dan, genggaman tanganmu tak akan kulepaskan
hingga kutemukan genggaman yang sama sepertimu.
Swan....
Tolong rekatkan kedua sayapmu untuk menitipkan aku bersamanya di
angkasa.
Gianyar, Desember 2015
NB:
Bagi yang doyan baca cerpen monggo mas-mbak bisa
menghubungi kontak dibawah ini
Judul : STALKER
Web : kaifapublishing.com
FB : Kaifa Organizing
Twitter : @publishingkaifa
Email : promosikaifa@gmail.com


Komentar
Posting Komentar