Genggaman Kecilku (Cerpen Kedua)




C.V. Genom, Desember 2015
Ketika tubuhku masih seperempat dari tinggi tubuhnya, tangan besar itu terus menggenggam erat tangan mungilku agar tak lepas. Empat kaki melangkah bersamaan di atas dedaunan kering yang berjatuhan. Sinar mentari menyelinap melalui sela-sela jemari tangannya yang mencoba menutupi wajahku agar tidak terkena panas.
Seingatku, kami berkejaran yang menyebabkan bunyi gemerisik di atas dedaunan kering tadi. Suara tawa kami menggema bersahutan sembari terbawa angin. Aku tidak pernah berhasil menangkap tubuhnya yang tinggi. Sementara dia, selalu dengan mudah menangkap tubuh kecilku.
Strategipun harus cepat terpikir. Butiran air itu mulai mengalir melambat dari celah-celah penglihatanku. Semakin lama berubah terasa begitu berat, dan mengalir mulus di kulitku diiringi lengkingan isakanku. Dalam hitungan satu..dua..tiga... tangan kokoh itu bukan menghapus air mataku, melainkan mengangkat tubuhku setinggi-tingginya ibarat aku sedang terbang bebas. Strategiku pun tentunya gagal berantakan.
Ia selalu tahu cara membuat bibirku kembali melengkung dengan cara ajaibnya sendiri.
Dan kini, itu semua bukan hanya menjadi ingatanku saja, tetapi dengan bantuan waktu semuanya berubah menjadi kenyataan. Tangan kokoh itu tidak lagi menggenggam erat tangan mungilku untuk berlari menikmati terpaan angin. Simsalabim, tangan kokohnya kini menggenggam lebih erat lagi pada seseorang yang nantinya akan menggantikan tangannya untuk mengganggam tanganku.
Kali ini bukan strategi lagi yang kulakukan, tapi pembuktian dari beribu-ribu hari yang sudah kulalui. Kulihat diatas tautan kedua tanganku ada genangan air yang membuat perasaanku menciut. Berat! Ya, bahkan lebih berat dari berat badanku saat ini. Aku tidak berani mendongak untuk menantangkan wajahku melihat tangan kokoh itu telah mengalihkan tanggung jawabnya kepada orang lain.
Tanpa ada komando, suara berat yang terdengar mulai agak serak itu memanggil lembut namaku.
“Lavina...”
Dan tanpa hitungan detik, wajahku dengan cepat mendongak. Sebelum kata-kata keluar dari bibirku yang terlihat “merah” untuk hari ini, wajah hitam manis yang bersih dari jenggot dan kumis itu terlebih dahulu memamerkan lengkungan bibirnya.
Aku pun tak dapat membendung luapan air mataku lagi.
“Ayaah...”
Tangan kokoh itu kembali menggenggam aku dalam belaian pelukan. Tanganku mulai mencubit punggung kokoh itu. Itu adalah salah satu kebiasaan dari aku masih ingusan hingga aku mengenal yang namanya percintaan.
“Ayah sekarang sudah ikhlas, sayang...”
Aku yang sekarang bukan anak kecil yang baru terjatuh langsung menangis. Ayah tidak pernah memberiku satu dua suapan nasi, tetapi berkali-kali suapan. Dia kuat, aku pun harus lebih kuat.
Ayah meraih wajahku, dan mengajakku untuk beradu hidung. Kelakuan rutin ketika kami saling menguatkan. Gigi putihku terukir indah di antara tawa ringanku. Genggaman tanganku terasa asing, dan aku harus mencoba untuk terbiasa. Itulah rasanya genggaman tangan laki-laki yang sekarang menjadi suamiku.
Di usia 11 tahun...
Gundukan merah itu masih terlihat basah. Satu per satu orang-orang mulai meninggalkan gundukan merah itu. Hanya sayatan tangisanku yang masih bertahan. Ingin rasanya aku menggali tanah itu, dan mengeluarkan kembali apa yang ada di dalamnya. Tapi, tanganku tak kuasa. Ragaku terasa lemah.
Tuhan memang mengambil seseorang yang masih aku butuhkan. Tetapi, aku juga tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk kehidupanku kelak.
Terhitung mulai hari ini, aku baru menyadari bahwa aku tak sendirian. Dalam detik ini, aku mulai merasakan tangan kokoh itu ternyata mulai menyentuh ruang kehidupanku.
Rehan. Nama yang begitu singkat. Seseorang yang diumurku yang telah belasan tahun ini tak begitu kukenal dengan baik. Kesibukan! Ya, itu yang selalu menjadi alasan aku terkadang tak bertemu dengannya.
Tak ada lagi yang bisa kuraih, selain tangan kokohnya yang kini menggenggam lembut tanganku untuk meinggalkan gundukan basah itu.
                                                                  ***
Satu suapan terakhir lagi, tapi tanganku terasa tertahan.
Selembar kertas tersodor ke arahku. Kulihat sekilas, ada tiga nomor yang berisi barisan kata-kata. Kali ini pandanganku beralih ke arah seseorang yang memberikan kertas itu, bersamaan dengan suapan terakhir masuk ke dalam mulutku.
“Kamu bisa memilih mana yang menurut kamu baik,”
Untuk pertama kalinya Ayah duduk berhadapan denganku. Di atas meja makan bundar kami. Ia menyeruput kopi paginya yang masih mengepulkan uap, wangi kopi hitamnya bermain di hidung kecilku.
Dengan sendok makan masih dalam mulut, aku membaca tulisan tadi dan berusaha mencerna setiap poin yang nantinya akan aku pilih.
“Yakin dengan pilihan yang Ayah buat sendiri?”
Tanpa ada urat menegang di keningnya. Tanpa ada tatapan tajam di matanya. Tanpa ada kelegaran dalam serakan suaranya. Dan, tanpa ada hembusan nafas yang coba kutangkap dengan baik apakah terdengar berat atau malah sebalikya.
Semuanya nihil.
Terlihat olehku bahwa ia ingin aku masuk lebih dalam lagi dalam hidupmya. Tanganku pun melingkari poin ketiga, dengan menghiraukan poin sebelumnya. Ayah dan Lavina selalu bersama dalam setiap detik.
Ayah pun tak ambil pusing dengan bisnis yang selama ini dijalaninya hingga kami dapat hidup dalam kelebihan yang patut disyukuri. Masih ada bawahan yang dapat diperintahnya, begitu pembelaan yang diberikanmya.
                                                                 ***
Di usia 22 tahun...
Gemericik air hujan membuatku menarik selimut lebih erat lagi. Tirisan airnya berlomba-lomba di licinnya kaca jendela kamarku. Deringan telepon bertubi-tubi membuatku tuli sementara.
Di saat seperti ini aku berharap Bunda berada disebelahku, memelukku menggantikan tebalnya selimut yang kukenakan. Aku bimbang untuk mengambil keputusan. Banyaknya waktu yang dilalui membuatku terpikir bahwa hidup ini bukan hanya aku dan Ayah. Tapi, hidup itu selalu menghadirkan seseorang yang nantinya akan mengajakku berlari lebih jauh lagi.
Huuf...dingin membuat perutku lapar. Tak perlu waktu lama tubuhku untuk berpindah tempat. Bungkukkan tubuhku di depan mesin pendingin menandakan aku butuh sesuatu untuk mengganjal perut. Seluruhnya makanan instan, tak apalah. Terakhir tanganku meraih botolan susu cokelat dingin berukuran sedang, dan akan segera kupanaskan.
Kring. Kring. Kring.
Telepon rumah berdering nyaring dari arah ruang keluarga.
“Hallo...”
“Iyaa...”
“Ayah hari ini pulang terlambat ya, sayang.”
“Oke, yah.”
Tut. Tut. Tuuut.
Suara telepon dari seberang terputus. Gagang telepon itu kembali ke peraduannya.
Kaki jenjangku beranjak ke arah ruangan penyimpanan khusus. Diluar, hujan sepertinya terdengar semakin lebat. Alat pendingin ruangan pun aku matikan, agar aku tidak mati kedinginan sendiri di dalam ruangan. Kepulan uap susu cokelat buatanku bermain di bibir cangkir. Serutan pelanku terasa nikmat di suasana dingin ini.
Klik.
Gagang pintu itu kubuka. Tak ada yang berubah. Semuanya tertata dengan baik. Dan, sesuatu yang utama itu berdiri indah di dalam bingkaian lemari kaca, tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Putih, panjang dan sangat indah.
Aku kembali teringat perkataan Ayah.
“Lavina.”
“Iya, Yah.”
“Sekarang kita hanya hidup berdua. Bundamu telah memiliki tempat tinggal lain yang nyaman. Dan, hanya kamulah yang Ayah miliki.”
Ayah menutup koran yang dibacanya dengan lipatan yang rapi. Sementara aku sibuk dengan gadged baruku. Sebelum melanjutkan perkataannya, Ayah menyeruput teh hangat buatanku hingga tak tersisa.
“Hidup itu terlalu naif kalau kamu juga tidak mencari apa yang sebenarnya harus kamu cari, Lavina.”
“Tidak ada yang harus aku cari, Ayah. Aku sangat menikmati apa yang kujalani saat ini. Tanpa ada pemikiran sempit yang tak kutemui jawabannya. Ayah telah menghabiskan waktu hanya untuk aku, dan begitu pun aku. Jadi, tak ada yang perlu di pusingkan, Yah.”
“Sayang, lepas dulu gadged kamu!” Suara Ayah mulai terdengar meninggi. Aku lalu meletakkan gadged-ku di atas meja.
“Lavina, Ayah ingin menjadi orang tua yang sempurna. Mencoba tanpa ada kekurangan satu apa pun. Ayah ini lelaki. Ayah tahu apa yang harus Ayah lakukan untuk anak perempuan satu-satunya.”
Helaan beratnya membuatku mendongakkan wajah. Menatap lebih tajam ke dalam matanya, mencari kebenaran yang sedang berkutat di kepalaku.
“Maksud Ayah, mulai sekarang aku harus mencari pendamping hidup?”
“Pertanyaan yang tepat. Dan, itu adalah keharusan menurut, Ayah.”
“Tapi, aku belum terpikirkan untuk itu.”
“Mulai sekarang kamu harus memikirkannya, tanpa alasan apa pun.”
“Ayah, aku masih ingin menghabiskan waktuku bersama denganmu. Kalau aku menikah itu akan berbeda, Ayah.”
“Itu hanya ketakutanmu. Pernikahan bukan menjadi sesuatu yang menakutkan.”
“Tapi, Yaaah...”
“Ayah akan jauh lebih bahagia kalau kamu memiliki seseorang selain dari Ayah.”
Penuh. Itulah isi kepalaku. Tak ada ruang untuk berpikir jernih. Kebimbangan bermain dengan puasnya tanpa memberiku kelegaan bahwa apa yang kulakukan tak seburuk seperti yang kupikirkan. Permasalahan itu ada pada diriku sendiri, dan begitu juga dengan pemecahannya. Gabrian. Lelaki yang memberikan keseriusan penuh padaku. Ia baru kukenal dua tahun belakangan ini. Lelaki yang tanpa halangan langsung mendapat persetujuan dari Ayah. Kepercayaan yang dimiliki penuh oleh Gabrian untuk membawaku ke dalam kehidupannya.
                                                                    ***
Hari yang ditunggu pun tiba.
Si indah putih itu kini telah terisi oleh badan rampingku. Kontras merah terlihat di lengkungan jemari lentik kukuku. Cermin dihadapanku memperlihatkan kedewasaan yang terpancar pada pantulan tubuhku. Detak jarum jam di dinding membuatku semakin tegang. Kucoba memejamkan mata. Menarik nafas dalam dan lebih dalam lagi.
Sentuhan lembut tangan kokoh itu bersandar di pundakku. Tak perlu waktu lama, mataku menitikkan air. Aku tak kuasa membalikkan badan. Cermin itu kini memantulkan dua tubuh manusia yang tak perlu banyak alasan bahwa sama-sama saling berat untuk melepaskan.
Kembali tangan kokoh itulah yang menarikku ke dalam pelukan hangatnya. Cubitan kecilku kembali bermain di pundak tegapnya.
“Ayah.”
“Ya, Lavina kecilku.”
“Aku tidak pergi meninggalkanmu. Aku hanya pergi ke genggaman tangan orang lain yang Ayah percaya penuh untuk Lavina. Kita masih bisa membuat jalan cerita hidup kita berdua Ayah jangan hanya memikirkan kebahagiaanku saja. Tapi, Ayah juga harus mulai memikirkan seseorang yang nantinya akan menggantikan genggamanku.”

                                                              -TAMAT-


NB:
Monggo bagi yang mau memiliki kumpulan cerpen secara lengkap dapat menghubungi kontak dibawah ini:



Judul      : Pak Den & Bu Wi
Pin BB    : 5E8322DD
Email       : penerbitgenom@gmail.com 
Alamat    : Jalan Pogung Kidul No. 14, Sleman, Yogyakarta




penghargaan sebagai Kontributor



Komentar