Surat pun Berkata (Cerpen Keempat)
C.V. Anugrah Utama Raharja (AURA), Juli 2016
Keringat
bercucuran hingga membuat kening melicin. Bibir hitam memucat terlukis di
antara cekungan pipi dan kantung mata yang membengkak. Punggung merunduk
menopang tubuh kecil bertulang dibalut baju lusuh. Tak ada celah kebersihan
dari dirinya.
Tumpukan
itu semakin menggunung di dekapan punggungnya. Wajah menengadah melihat serbuan
awan hitam menutupi daratan biru di langit. Kulit tipis tubuhnya mengerut
melawan dinginnya angin yang mendekat. Bunyi perut terkalahkan oleh seretan
kaki berlapis kulit di antara tumpukan barang tak layak itu. Mata membuat miris
untuk melihat dan telinga mencoba tuli untuk mendengar kenyataan.
Tanah
becek yang mengeluarkan bau khasnya bermain tak nyaman di hidungku. Pantatku
terasa menipis duduk bertopang lutut di atas bebatuan basah. Semilir liukan
angin tak membuatku menghentikan butiran keringat itu mengucur. Kain putih yang
membalut lengan kurusku itu kini mulai ternoda oleh peluh bercampur debu.
Hembusan
dari mulut kutahan dengan telapak tangan kanan; yang masih ada celah bersihnya.
Berat terasa di antara dua penglihatanku. Tak ada guna aku merapatkan pakaian
yang hampir tak layak pakai pada tubuhku. Rintik mulai beradu dengan awan
hitam; menyebabkan aku hanya bisa memejamkan mata untuk mencoba mengeluh kepada
Tuhan.
Wajahnya
terlihat tenang. Polos, tapi lembut. Mempesona di mataku. Terasa menghidupkan
kembali perasaan naluriku yang beberapa detik lalu terasa menusuk. Seakan
mentari datang mencairkan hatiku yang beku. Karena rasa. Karena masa depan.
Sepanjang jarum jam berdetak, tak akan ku sia-sia kan. Karena ada damai di
kalbu. Itulah, Ayahku.
Bila
kaki ini dapat memanfaatkan kesepuluh jemari untuk melawan pijakan empuk yang
ditawarkan tanah; aku akan berdiri di samping Ayah. Menunduk bersama dengan
senyuman peluh. Dari sini, bibirku selalu menggerutu kecacatan yang diberikan
Tuhan kepadaku sejak usia dua tahun. Tapi, hatiku selalu memberi pembelaan
bahwa Tuhan tidak jahat denganku hanya karena kedua kakiku tak dapat menikmati
indahnya hidup.
Aku
mengeluarkan secarik kertas dari saku pakaian yang mulai basah oleh keringat
dinginku. Lekukan hurufnya yang mulai memudar masih terbaca jelas olehku. Dua
kata yang sangat ajaib bagiku.
2
tahun silam. . .
Sepanjang waktu di hari
kelima bulan pertama selepas perayaan Tahun Baru yang bertepatan dengan hari
kelahiranku, bibir kecilku yang berlepotan cokelat mengeluh tiada henti akan
kekurangan yang kujalani. Ibu sudah lama meninggalkan aku dan Ayah untuk hidup
melawan kerasnya hidangan dunia yang diberikan Tuhan yang tak dapat kami cicipi
seenaknya. Hari-hariku laksana tanggalan merah yang dalam arti ingin meliburkan
hidup ini dari dunia yang terlalu banyak menawarkan janji manis.
Saat itu, linangan air
mata Ayah lebih menyayat bila dibandingkan keluhanku. Ia lelaki paruh baya yang
belum siap menemaniku sendirian melewati kekejaman waktu yang terus berputar;
tanpa kehadiran Ibu. Sejak lahir aku belum melihat wajah lembut Ibuku. Sumber
energi pertama yang wajib Ibu berikan kepadaku pun tak kurasakan. Ketika
pertama kali aku merasakan nafas dunia, disitulah nafas terakhir untuk Ibu.
Detik-detik pertambahan
usiaku, lontaran permintaan yang terasa kelu di ujung lidahku pun berani kuucapkan setelah menunggu lima
menit dalam diam.
“Ayah,”
“Iya, Nak.”
“Begitu mahalkah
mobil-mobilan yang berukuran sedang itu?”
Ayah hanya diam.
Aku
melanjutkan,”Terpaksakah bila Ayah memenuhi keinginan pertamaku ini?”
Ayah masih terdiam.
Aku melanjutkan lagi,”Bisakah
Ayah menggantikan kaki cacatku ini dengan mobil-mobilan yang tidak akan pernah
cacat itu?”
Kali ini Ayah lebih
terdiam dalam tangis.
Apakah aku telah
menyakiti Ayah dengan satu permintaanku? Aku tidak bermaksud menambah dosaku
dengan membuat orang lain menangis.
Ayah berdiri, dan
berjalan kearah meja; lalu merobek selembar kertas dari buku tulis yang ia
temukan dari hasil memulung. Entah apa yang ia tulis. Akhirnya, ia pun kembali
mendudukkan tubuhnya tepat di hadapanku.
“Nak, Ayah ingin
menceritakan sebuah cerita kepadamu. Ayah ingin kamu mendengarkan dengan
seksama.”
Kepala kecilku
mengangguk pelan.
“Dahulu ada seorang Ibu
yang menghidupi ketiga anak, tanpa adanya Ayah sebagai kepala keluarga mereka.”
Ayah menarik nafas pendek.
“Di tahun kelima masa
meninggal suaminya, ia sama sekali tak memiliki sesuatu sebagai pengganjal
perut. Sebutir pun tidak ada. Ketiga anaknya menangis bersamaan dengan perut
yang ceking. Sang Ibu pun merasa tertusuk melihat hidupnya yang terus berputar
pada titik yang sama. Yaitu, kemiskinan. Tak tahan, sang Ibu berjalan keluar
rumah. Akhirnya, kakinya yang berjalan terus dengan linangan air mata itu
berhenti tepat di kumpulan tumbuh-tumbuhan menghijau; namun sedikit berduri.
Tak ada pilihan lain, tangannya pun cekatan mengambil sebagian dari tumbuhan
itu. Ia pun pulang dengan linangan air mata lagi.”
Kepalaku menunduk
terus, tak berani menatap kearah wajah Ayah; saat itu.
Nak, lihatlah wajah
Ayah. Begitulah salah satu cara menghormati orang tua, Nak.”
“Aku tidak berani,
Ayah.”
“Apakah wajah Ayah
seperti hantu yang suka bergentayangan di desa kita?”
Dongakan wajahku disambut
elusan lembut tangan Ayah di kepalaku.
“Bisa Ayah lanjutkan
ceritanya?”
Senyuman itu
menenangkan. Ayah pun melanjutkan, “Sang Ibu itu pun mulai memasak tumbuhan
berduri tadi dengan harapan tajamnya duri itu akan melunak di dalam mendidihnya
air.”
“Terus, Yah?”
“Duri ya tetap duri. Tajam
menusuk.”
Ayah menyodorkan
selembar kertas tadi kepadaku, yang kini terlipat dengan rapi.
“Ayah berharap kamu
merenungi isinya.”
Tanganku gemetaran
membuka lipatan kecil kertas itu.
SELALU BERSYUKUR.
Dua kata yang membuat
mataku gelap dan lidahku membeku. Senyuman tertekan itu terlihat jelas di wajah
lusuh Ayah.
“Hanya itu yang bisa
Ayah berikan, saat ini. Entah kapan, tanpa kamu minta pun, Nak, tak ada yang
terlewatkan yang membuatmu senang akan Ayah berikan.”
Ayah memelukku dengan
erat. Aku pun membalas pelukannya.
Beberapa
bulan yang lalu rumah kami di gusur. Tak ada tempat perlindungan lagi untuk aku
dan Ayah. Kemana pun Ayah pergi, aku akan ikut. Bila kakiku tak cacat mungkin
aku akan sedikit meringankan beban Ayah.
Tumpukan
barang bekas yang menurut kami masih layak itu telah memenuhi karung yang disandang
di pundak Ayah. Langkah cepatnya dengan beban yang cukup berat membuatku
mengerti arti dari hadiah pertama dan entah akan menjadi hadiah terakhir atau bahkan
menjadi hadiah awal dari Ayah.
Selalu bersyukur. Dua
kata ajaib yang kumiliki. Dan, kertas itu akan selalu kubawa kemana pun.
Setidaknya, aku mulai tak mengeluh lagi kepada Tuhan, karena masih banyak
pemberian Tuhan yang patut aku syukuri.
TAMAT
NB:
Berminat?
Silahkan menghubungi kontak dibawah ini
Judul : Cerita Dari Kampung
HP : 081281430268
Email : aura_print@ymail.com
Web : www.aura-publishing.com
Alamat :
Jl. Prof. Soemantri Brojonegoro, Komplek Unila Gedongmeneng, Bandar Lampung



Komentar
Posting Komentar