Sepotong Khayalan Tentang DIA (Cerpen Keenam)





C.V Writing is Amazing, April 2017

Aku selalu suka dengan aroma pagi yang baru. Dimana ia belum terjamah oleh janji sang surya. Langit pun bersih tersapukan oleh burung-burung yang beriringan, bagai asap roket. Kumpulan itu mencoba tak terjebak dalam penantian sang bumi. Ujung mataku tersirat iri. Kepakan sayap putih itu menyombongkan kebersamaan mereka di depan mataku yang rapuh. Berat terasa. Tapi, aku tak dapat mengalihkannya.
Pagi ini angin tak begitu nakal. Langkah samarnya menyapa ringan kulit berbulu halusku. Bertubi-tubi, aku jadi ketagihan. Semilirnya menemani kesendirianku di ujung dermaga. Bahkan di ujung rasa.
Perahu-perahu pencari ikan tertambat di bibir pantai. Kosong. Sepertinya para nelayan sedang beristirahat sejenak, atau sedang mempersiapkan sesuatu. Kini perahu itu terlihat berjajar rapi seperti deretan parkiran di supermarket. Ada pula jejak kaki-kaki liar yang berlarian di pesisir pantai, agak tertanam dalam. Di bawah hangatnya mentari pagi, duduk manis para pemilik pancingan yang dengan setia menunggu ikan menyentuh ujung kail mereka. Butuh waktu yang bisa di bilang membuat pantat menipis, dan kesabaran benar-benar teruji. Hingga akhirnya mereka histeris ketika ujung kailnya goyang sedikit, jika beruntung.
Aku ingin untuk berhenti memaksa memutar waktu. Karena kebersamaan kala senja itu membuatku ingin mengingatnya pagi ini. Mengingat bagaimana suara serakmu menggoda ujung pendengaranku. Menggelitik setiap percakapan yang tanpa ujung. Oh, Sandy...kamu telah menciptakan cerita kita yang membuatku lirih bila mengingatnya.
“Mandy.”
“Ya, Sandy.”
“Ada yang berbeda denganmu hari ini.”
“Oh..ya? Berbeda dimananya?”
Aku tidak perlu bercermin, pasti saat ini kulit wajahku berwarna merah jambu menahan godaan dari mata Sandy. Huft!
“Kali ini matamu lebih berwarna di atas goresan putih tipis di ujung mata sipitmu, Mandy. Aku suka!”
“Jangan terlalu memujiku, Sandy.”
“Aku bukan seperti lelaki lain yang membuang-buang kata hanya untuk dilihat berkata manis, Mandy. Bila aku mengatakan ‘suka’ berarti kamu telah memikat mataku untuk merengkuh kesempurnaan yang kamu ciptakan sendiri.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman yang tertahan, karena mataku agak terasa berat.
“Jangan terharu begitu, Mandy. Aku tidak ingin kamu menghapus jejak rasa yang kamu tumbuhkan untukku.”
“Apakah besok kita masih bisa berbagi rasa seperti ini, Sandy?”
“Aku berharap begitu.”
“Jam berapa keberangkatanmu besok?”
“Jam tujuh pagi aku sudah berangkat, Mandy.”
“Lombok-Papua sepertinya sangat jauh, Sandy.”
“Itu hanya perasaanmu saja.”
“Buktinya di peta jaraknya jauh.”
“Di peta jaraknya hanya sejengkal, Mandy.” Ia menunjukkan ukuran sejengkal tangan kanannya dihadapanku.
“Jangan bercanda, Sandy. Setahun bukan waktu yang cepat. Kira-kira disana ada dermaga juga seperti disini?”
“Sepertinya.”
Menurutku kita hanya berjarak, bukan berpisah. Begitu jauh jarak yang memisahkan, membuat rindu harus cepat dituntaskan. Cerita sore kita di dermaga ini menimbulkan kenangan yang semakin bertambah tanpa aku tahu bagaimana caranya agar berkurang.
Air mataku terus mengalir saat mengingatmu. Aku bukan lemah, tetapi itu bukti bahwa aku mempunyai rasa. Ketika aku memutar waktu, aku ingat saat kamu berkata ingin terbang bebas menembus batas. Berpisah dengan jarak dan waktu yang tak bisa ditentukan dengan jari.
“Sandy, tidak ada yang pasti ketika jarak dan waktu bermain di dalam perasaan.”
“Mandy, saat cintamu memudar karena jarak dan waktu diantara kita, ingatlah saat pertama kali kita bertemu disini.”
“Kadang seseorang hadir hanya untuk mengisi masa lalu, bukan untuk mengisi masa depan. Apakah kamu juga seperti itu, Sandy?”
“Jangan pegang janjiku, Mandy. Tapi, pegang janji kita bahwa kita akan bertemu di dermaga ini untuk rasa yang sama.”
Aku tidak menyukai tepian dermaga. Karena angin laut selalu tidak pernah bersahabat. Tapi, kamu sangat menyukai dermaga, Sandy. Dan, tanpa sengaja dermaga tempat pertama kali kita bertemu. Juga janji pertama yang kamu ucapkan. Aku berusaha belajar menerima dan merangkul ketidaksempurnaan jarak kita. Berat. Bila mengingat kembali terkadang terlalu muluk-muluk pembicaraan kita saat itu. Aku sedih, Sandy.
Yang aku tahu, aku masih mencoba untuk menunggu dan merindukanmu. Rindu di dalam memori yang jejaknya hampir memudar dengan sendirinya. Setengah tahun lebih aku bertahan dalam rindu. Tapi, rindumu tak pernah aku dengar. Suara serakmu dulu tak pernah kudengar lagi, terakhir kali ketika kamu telah sampai di tanah orang timur. Hanya itu.
“Mandy, sayang.”
“Ya, Mah.”
“Ingat, untuk mengobati hati yang patah belajarlah untuk jatuh cinta lagi.”
“Mandy hanya ingin menepati janji, Mah.”
“Janji harus ditepati bersama. Bukan hanya kamu saja, sayang.”
Yah, aku harus tegar!
Tegar bahwa rasa terkadang harus mengalah kepada rindu yang tak tercurahkan. Dan, aku kembali ke dermaga ini. Aku ingin membuang janji darimu, Sandy. Disini kita pertama bertemu, dan disini pula aku ingin melepasmu.
Aku tidak ingin tertipu oleh waktu yang membuatku menunggu. Semoga ketika waktu berpihak menemukan kita, aku berharap rasa tidak akan mempermainkan lagi.
                                                                 

TAMAT




NB: 
Yess cerpen keenam sudah open PO loh
*inget cerpen saya ada di Jilid I ya



Ayok dong beli harga bukunya cuma 45K (umum) saja loh, dengan format pemesanan: Nama (no hape)_Janji Jili I/II_Jumlah Buku ) Alamat Lengkap +  Kodepos
     ➡ Kirim via inbox di FB Widia Wap ya.


FB      : WA Publisher


Email : wapublisher44@gmail.com
 



Komentar