Rindu Ini Curang (Cerpen Ketujuh)




Swalova Publishing, April 2017


Senja

Seharusnya sekarang sudah memasuki musim panas. Biasanya langit tidak akan malu-malu lagi untuk menampakkan sang mentari. Tak ada gumpalan awan hitam lagi. Burung-burung pun akan bebas mengepakkan sayapnya menembus angkasa. Liukan ujung pepohonan tak menampik bahwa hari ini akan menjanjikan. Tapi, aku tak ingin teringkari oleh musim. Warnanya merah. Ups, bukan! Maksudku ada sedikit unsur merahnya. Sebuah payung kecil berwarna dasar hitam yang diperindah oleh percikan bunga-bunga mungil di ujungnya. Sudah kupersiapkan, karena aku tak menyukai hujan.

Kurapikan ujung rok yang sedikit terlipat. Agak terlihat kusut. Sebatas lutut membuat kaki rampingku terlihat menyilau dibawah rerumputan membasah, sisa embun semalam. Hari masih pagi. Tak begitu banyak yang tertangkap di mataku. Para penikmat taman mungkin enggan keluar rumah sebelum reruntuhan air langit itu benar-benar berganti. Mereka lebih loyal dalam selimut yang menjanjikan kehangatan. Aku teringat sebulan lalu ketika membatalkan secara sepihak ajakan Surya bertemu di taman ini. Ya, karena hujan saat itu.


Surya

Matahari sudah menyembul. Sepertinya akan lama karena curahan jarum-jarum perak itu berakhir hari ini. Bulan telah berganti musim. Langit tak terhalang lagi oleh iring-iringan air suci yang terpatahkan sesampai di bumi. Senja pasti sudah menunggu sejak tadi di taman.

Awalnya aku tak percaya ketika Senja berkata, aku tak menyukai hujan. Dingin. Abu-abu. Bau tanah. Merupakan penyebab hujan masuk dalam nominasinya. Ah, sangat bertolak belakang denganku.

"Selamat ulang tahun, Senja!" seruku dari seberang telepon genggam dengan nyaring. "Aku tak ingin menyembunyikan hal surprise untukmu, karena aku tahu kamu pasti sudah menebak rencananya. Diluar langit memang kelabu, tapi aku ingin merayakannya bersamamu, bolehkan....?" Suaraku terdengar mengambang.

"Tetapi diluar hujan sangat deras, Surya."

Itulah yang memang aku inginkan. Merayakan hari lahir Senja dibawah reruntuhan kedinginan penuh syarat keintiman rasa. Terobosan sekumpulan air yang membentuk tirai rapuh menumbuhkan kerinduan langit kepada hentakan bumi. Aku ingin segera menemui Senja. Tapi, ia mengatakan tidak.

Aku mempercepat laju kuda besiku, takut membuat Senja menunggu lama di taman. Musim kesukaannya akan tiba.


Senja

Aneh, Surya belum juga datang. Padahal ia paling tidak suka dengan kebiasaan jam karet. Cuaca juga tak menjadi penghalang hari ini. Aku sudah tidak sabar hendak menunjukkan lukisan pertamaku padanya.

Sinar dari langit semakin menyilau. Angin-anginkan sejuk berlomba lari dari segala arah. Kucoba untuk menerka apakah sebenarnya rasa angin? Ringan? Lalu bagaimana keringanan itu harus kuresapi hingga ke dalam lubuk?

"Suara tawamu ringan, Senja! Seperti mentari terbenam. . ." seru Surya. "Ia tak mengusik pendengaranku. Renyah sekali. Aku juga membalas tawamu. Tahukah kamu seperti apa rasanya? Aku seperti dihujani rasa memiliki."

Pipiku pun berhiaskan merah yang menjadi-jadi. Apalagi ketika ia mengatakan bahwa aku seperti Song Hye Kyo, bintang film Korea tersohor itu. Dan pujiannya menembus kencang seperti angin ketika menceritakan Song Hye Kyo saat membintangi Endless Love, Full House sampai Descendants of Their Sun.

Olala, aku tak menyangka arsitek seperti Surya ternyata penggemar film Korea. Dalam hati aku mulai bertanya-tanya, apakah selama ini Surya bertingkah romantis karena mendapat inspirasi dari film Korea?

Tetapi dari mana pun ia terinspirasi, rupanya aku tetap selalu terbuai bila di dekatnya.


Surya

Raja siang semakin menggagahi daratan bumi. Kuturunkan kaca helm agar tidak silau. Senja pasti sedang menunggu. Semoga saja ia tidak kesal dengan keterlambatanku. Lampu merah di depan belum beranjak ke hijau. Hitungannya pun masih di angka tiga puluh. Antrian di jalanan memanjang.

Tiga bulan lalu adalah terakhir kalinya kami bertemu. Di penghujung Maret, di warung mie tek-tek langganan. Saat kami tidak sengaja terjebak dalam ribuan air hujan. Percikan hujan membuat sepatu flat Senja basah, wajahnya mendung. Aroma tanah basah menyeruak hingga menusuk hidungnya. Ia ingin menggeram, tapi tak ada guna memprotes kepada Tuhan. Hujan telah turun. Penguasa langit yang menginginkannya.

"Kenapa kamu tidak menyukai hujan, Senja? Hujan tidak buruk."

"Hujan selalu membuat rindu tertahan, Surya."

"Tenang, Senja. Rindu dapat menembus hujan walau badai pun. Itu janji hujan."

"Janjinya selalu ingkar, Surya. Rintikan hujan membuat rindu itu memudar karena menunggu."

"Tetapi aku tidak akan membuat hujan akan mengingkari kerinduan yang diciptakannya, Senja."

Hari ini Senja akan menunjukkan hasil lukisan pertamanya. Suaranya menggebu-gebu menceritakan jemarinya dapat berbicara di atas pertamanya. Sentuhan warna-warna kuasnya membuat perpaduan matahari dan hujan dapat melahirkan lengkungan tipis pelangi. Ini bukan hal yang biasa. Senja mendapatkan inspirasi karyanya tak sengaja ketika teriknya matahari memanggang langsung di guyur hujan lebat. Jemarinya pun mengambil alih.

Lampu telah berubah hijau. Sinar matahari sedikit memudar. Ada keabu-abuan di ujung langit. Semoga tak hujan, aku berdoa untuk Senja.


Senja

Aku sudah tak sabar memecah kerinduan setelah tiga bulan tak bersua dengan Surya. Hari berlalu begitu cepat, hingga saat ini aku masih setia menunggunya di taman tempat biasa kami bertemu. Hembusan angin tak lagi menguasai sekelilingku. Kekhawatiran tiba-tiba menyergapku. Kulihat di ujung langit ada setitik warna abu-abu, mendekati gelap.

Musim ini curang, mentari harus berjaya di bulan Juni. Jatah musim penghujan telah usai Tuhan, tapi mengapa langit masih ingin menjatuhkannya ke bumi? Gerutuku sambil memegang erat lukisan yang sudah terbungkus rapi. Apakah disana hujan telah turun sehingga Surya tak muncul-muncul?

Dingin lagi. Abu-abu lagi. Bau tanah lagi. Aku tak menyukainya!

Setitik air menyentuh lembut kaki telanjangku. Belum banyak, baru pertanda. Dadaku terasa merintih. Ada yang tertahan rasanya, kerinduan. Hujan lagi-lagi menjadi penghalang. Jarak dan waktu yang sekian lama menyiksa kini terhempas rindunya karena Sang Penguasa berkehendak lain. Pedih. Rindu ini sudah menjadi candu. Dan, aku ingin sekali memperlihatkan hasil karyaku pada Surya secepatnya.

"Senja, esok aku akan pulang." Dari seberang terdengar kabar menggembirakan. Profesi Surya yang sebagai arsitek mengharuskannya mengambil proyek kebanyakan di luar daerah. Memakan jarak dan waktu untuk hubungan yang baru seumur jagung ini. Aku mengerti posisinya. Dan, dia selalu tahu cara mengobati kecanduan rinduku.

"Oh, ya? Aku senang banget. Sekalian ada yang ingin aku tunjukkan padamu."

"Apakah itu?"

"Hasil lukisan pertamaku. Hujan dan matahari memang selalu egois untuk bumi. Tapi antara keduanya aku menemukan penyebab kecanduan mereka terhadap bumi."

"Apa itu, Senja?"

"Biasanya pelangi, Surya. Warna-warni indah itu yang membuat bumi tak pernah protes pada keduanya, menurutku."

"Tunggu aku, Senja."

"Oke. Kali ini aku tidak ingin dicurangi karena kerinduanku lagi."

Dibawah derasnya hujan kupegang erat bungkusan lukisan itu. Payung yang dibawa tak terlalu besar sehingga ujung bungkusannya pun sedikit basah. Kaki telanjangku kini kedinginan. Seharusnya tadi aku memakai celana panjang saja agar tak basah. Duh, detik berlalu cepat.


Surya

Aku merasa bersalah ketika kudapatkan Senja duduk sendirian dalam lebatnya hujan. Ia begitu kalut dan sedih. Karena sekali lagi hujan memudarkan angannya untuk menikmati sang mentari.

"Aku tak akan membuatmu menunggu dalam kerinduan yang lebih jauh lagi."

"Surya?" Senja mendongakkan wajah sedihnya kearahku. Matanya dipenuhi kerinduan.

"Hujan memang mencurangi matahari. Tapi, aku tidak akan mengingkari janji kerinduanku padamu, Senja."


Senja

Sebuket bunga daisy terulur indah dihadapanku. Wajahnya sebening bulan. Tarikan bibirnya membuatku gila bahwa rindu ini benar-benar curang. Rindu tahu mengacak rasa walau ia sempat terhalang.

Kuulukan juga bungkusan yang tak lagi mulus itu. Aku berharap Surya tak akan egois seperti hujan dan matahari. Ia pun tersenyum dibawah guyuran hujan. Dan, aku juga.


                                      ***

(Cinta bukan perjuangan menghadapi musim. Tetapi bagaimana agar tetap bisa memiliki di antara jarak dan waktu.)



NB : 
Alhamdulillah lolos sebagai Kontributor dalam Event bertema BEBAS, tunggu bukunya segera terbit ya. . . See you!





Komentar