Karena Tuhan Tak Pernah Melupakan Kita Vol. 3 (Cerpen Pertama)
Oksana Publishing, April 2015
Musibah tidak mengenal siapa yang
ditimpa, dan tidak ditentukan kapan waktunya. Terjadi begitu saja tanpa
aba-aba, tetapi sekejap menghancurkan. Bangkit dari kehancuran ibaratnya
mengumpulkan serpihan-serpihan kaca, dan akankah masih layak untuk digunakan. Diri
sendiri dan Tuhan yang mengetahui. Hanya menunggu giliran untuk merasakan gelapnya hidup ini.
Tidak ada yang menginginkan untuk dilahirkan bila akhirnya sengsara. Terpikirkan pun sama sekali tidak. Bila ada pilihan dalam hidup ini, dari keluar dalam seonggok daging berdarah hingga tubuh kembali menyatu dengan tanah, Diana akan menentukan sendiri list hidupnya.
Tidak ada yang menginginkan untuk dilahirkan bila akhirnya sengsara. Terpikirkan pun sama sekali tidak. Bila ada pilihan dalam hidup ini, dari keluar dalam seonggok daging berdarah hingga tubuh kembali menyatu dengan tanah, Diana akan menentukan sendiri list hidupnya.
Tersenyum dalam kepahitan merupakan cambukan
lembut dalam setiap hembusan
nafas. Ringan tapi menekan. Berjalan di atas kaki tanpa tujuan seakan berkata
pun tidak ada
artinya. Hitam dan putih menjadi dua pilihan, tanpa
ada
pilihan warna lainnya. Hanya doa
sebagai penyejuk hati, dimana
segalanya dicoba untuk menerima. Kenyataan itu memang menyakitkan.
Pukulan palu dari Tuhan tidak ada yang dapat
mengelak. Tajam.
Dalam ingatan Diana ini bukan jalan hidup yang diidam-idamkannya.
Dalam ingatan Diana ini bukan jalan hidup yang diidam-idamkannya.
Dalam lindungan Tuhan, bayi mungil itu
masih hidup dan menangis di balik puing-
puing bangunan.
Nenek Woro dan
tetangga-tetangga
yang lain mendengarkan suara itu.
Terdengar kecil dan menyayat
hati. Ia
pun
bersama yang lain dengan
sangat hati-hati mencoba menyelamatkan bayi
perempuan tersebut.
Wajah bundarnya
penuh dengan debu, isakan tak berdosanya membuat Nenek Woro
meraih tangan mungil yang sedang begelayutan di atas tangan seseorang. Dalam baju hangat biru muda yang
sudah berubah kecokelatan, bayi mungil itu meraung-raung
dalam dekapan
Nenek
Woro.
Tangan keriputnya menyentuh pelan setiap bagian wajah bayi itu. Kain lusuh yang
sedang dikenakannya direkatkan ke tubuh bayi itu. Angin sore membuat tubuh bayi prematur itu
mendingin. Ia mendekapnya agar
terasa hangat, dan menciumi
seluruh wajahnya.
Sesaat, Nenek Woro
terdiam. Menunggu dalam helaan
nafas panjang. Mata sayunya melihat ke sekeliling, memerhatikan setiap orang yang ada di situ. Hanya wajah-wajah sedih penuh
lelah, bukan wajah menginginkan.
Ia melihat kembali bayi tak berdosa itu. Senyumnya merekah diantara garis wajah keriputnya.
“Hari ini,
esok,
dan
selamanya,
kamu milikku!” kata
Nenek Woro terbata-bata. Ada
yang dirasanya lega. Sesekali ia mencium bayi itu lagi. “Matahari pagi akan selalu menunggumu.”
***
“Nenek! Aku sudah pulang!” teriak Diana berlari menenteng sandalnya yang putus.
Seragam sekolah yang
lebih
mirip baju bermain_sudah kotor di hari kedua di minggu ketiga
November ia masuk sekolah. Segera
di copotnya, lalu di buang ke lantai begitu saja. Dia berlari mengitari rumah reyot berdinding batu, dengan tanah sebagai dasarnya. Tak layak untuk di huni tetapi hanya itu
adanya.
“Nenek, dimana? Aku lapar.
Apa sudah ada
makanan?”
tanya
Diana
sembari terus mencari keberadaan Nenek Woro.
Di dapur
tidak ada. Di bukanya pintu belakang, “Nen. . .
aaaaaa. . . !!!” teriak Diana histeris, percuma tidak akan ada yang mendengarnya, kecuali Nenek Woro
disitu.
Baru melangkahkan kaki keluar
dari pintu, Diana
sudah di sambut dengan ayam
terbang_beradu dengan lawannya. Di rumah ini ada empat ekor ayam. Dua ayam jantan dan dua ayam betina. Nenek Woro
tidak membelinya, itu pemberian temannya ketika berjualan
sayuran di luar. Ayam itu sudah beranak pinak menjadi delapan ekor. Nenek tidak mau menjadikannya lauk sebelum ayam itu
berkembang biak lebih
banyak.
Hidup mereka jauh dari pengaruh modernitas. Terpisah dari hiruk pikuk dunia luar. Memenuhi semua
kebutuhan hidup sendiri.
Nenek Woro
berusia delapan puluh enam tahun,
dan
Diana beranjak enam tahun, tinggal
di sebuah
daerah terpencil. Mereka melakukan semuanya secara mandiri.
“Kruuuukk. . . kruuuukk. . . kruuuukk. . .” Diana memegangi perutnya yang sudah memberi tanda. Wajahnya mengerut. Perutnya mengerucut. Ia mengelus-elus perut kecilnya. Dia tidak menemukan Nenek Woro. Tangisnya pun lepas. Sambil mengucek-ucek matanya yang basah, dia berjalan ke arah halaman rumah, berharap menemukan Neneknya.
Dari jarak yang
tidak jauh, Nenek Woro terlihat sedang
memegang
hasil sayuran yang
ia tanam. Tempatnya menanam sayuran berada di lahan yang agak tinggi. Nenek berputar bila
akan turun ke
bawah, karena tidak ada anak tangga. Diana
melihat Nenek tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang
sudah
habis, melambaikan sayuran yang baru saja di petiknya.
Nenek Woro mempercepat langkah kakinya. Tubuhnya yang sudah membungkuk,
sedikit kewalahan
melewati tanah
becek
sisa-sisa hujan tadi pagi. Dengan sandal yang sudah
menipis, Nenek menapaki genangan air tanpa menghentikan senyumnya, tangannya
terus
melambai kearah Diana.
Nenek melihat
kaki Diana yang
tanpa
alas kaki. Tangan keriputnya mengelus rambut
Diana, sedikit merapikannya. Diana menunjuk sandalnya yang putus, yang diletakkan begitu
saja di depan pintu.
"Kamu sudah lapar?” tanya Nenek Woro, memegang perut kecil Diana. “Sangat, Nek. Lauk hari ini apa?”
Dengan wajah lusuhnya Nenek mengangkat sayuran tadi.
"Kamu sudah lapar?” tanya Nenek Woro, memegang perut kecil Diana. “Sangat, Nek. Lauk hari ini apa?”
Dengan wajah lusuhnya Nenek mengangkat sayuran tadi.
Diana mulai mengeluarkan air mata
lagi. “Aku tidak mau
sayur lagi! Aku
mau daging! Aku
tidak mau seperti kambing! Aku
tidak mau!!!” Dia merebut sayuran dari tangan
Nenek
Woro, lalu membuangnya ke tanah
becek, dan berlari ke dalam rumah.
Nenek Woro mengangkat sayuran yang telah bercampur dengan tanah itu. Lalu pergi
ke arah kolam kecil_lebih tepatnya seperti genangan air, yang berisi tampungan air bersih yang tak jauh dari rumah.
Hitungan jari pun jarang daging sebagai lauk mereka. Nenek Woro hanya
beternak ayam dan mengumpulkan sayuran yang
ada di sekitar rumahnya, lalu menjualnya ke pasar
yang jaraknya sangat jauh. Akses Nenek untuk pergi ke dunia luar adalah melalui sebuah goa yang dibuat oleh para penduduk desa sekitar lima dekade yang lalu. Ia benar-benar hidup mandiri. Sesekali teman lama
Nenek mengunjunginya.
Hujan menemani Nenek Woro
duduk di serambi rumah, sembari menjahit sandal Diana
yang
putus. Penerangan hanya
dari
dua
buah obor yang terpasang di kanan-kiri
serambi. Sejauh mata memandang
tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam hutan-hutan itu bila malam
menjelang, tak
terkecuali Diana dan Nenek
Woro.
Nenek memicingkan mata rabunnya ketika memasukkan jarum ke dalam karet sandal. Dengan sedikit kewalahan Nenek mengerjakannya. Ia melirik ke dalam. Diana terlihat dengan lahap memakan masakan Nenek walau hanya nasi dan sayur. Perutnya tidak tahan untuk berdiam hanya karena sayuran saja. Nenek tersenyum, lalu melanjutkan menjahit.
Nenek memicingkan mata rabunnya ketika memasukkan jarum ke dalam karet sandal. Dengan sedikit kewalahan Nenek mengerjakannya. Ia melirik ke dalam. Diana terlihat dengan lahap memakan masakan Nenek walau hanya nasi dan sayur. Perutnya tidak tahan untuk berdiam hanya karena sayuran saja. Nenek tersenyum, lalu melanjutkan menjahit.
Memang ego selalu mengalahkan akal sehat. Tanpa di sadari menguasai hati kecil kita. Pikiran dan kata hati terkadang
tak sejalan. Begitu mudahnya kita untuk di kuasai. Perasaan sensitif hanya kita yang dapat kendalikan. Maka dari itu, ego yang
selalu terpatri dalam pikiran harus sejalan dengan kata hati, sehingga kita
tidak merasa bermusuhan dengan hidup kita sendiri.
Nenek Woro mengelus rambut hitam Diana yang sedang tiduran di atas pangkuannya. Ia mulai menyanyikan cucunya sebuah lagu. Suara rentanya terdengar miris. Setiap nadanya terdengar rancu, terkadang Nenek juga lupa syairnya. Diana mencoba mencerna kata demi
kata yang
keluar dari mulut Neneknya. Sedari awal dia merasa alat pendengarannya sedikit sakit. Menusuk
hingga ke dalam.
Beranjak dari pangkuannya, Diana menatap Neneknya. “Nek, simpan saja suara Nenek untuk esok hari di pasar.” Nenek Woro bukannya merasa tersinggung, tetapi sebentuk lengkungan tergambar di bibirnya. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Diana seperti anak-anak lainnya, terkadang nakal. Tak sedetik pun dia pernah melihat ada celah amarah di wajah Nenek Woro.
Beranjak dari pangkuannya, Diana menatap Neneknya. “Nek, simpan saja suara Nenek untuk esok hari di pasar.” Nenek Woro bukannya merasa tersinggung, tetapi sebentuk lengkungan tergambar di bibirnya. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Diana seperti anak-anak lainnya, terkadang nakal. Tak sedetik pun dia pernah melihat ada celah amarah di wajah Nenek Woro.
“Kok, Nenek malah
tersenyum?”
“Tersenyumlah. Seakan esok tiada
lagi, Diana” ucap Nenek Woro di sela batuknya.
Tubuhnya yang rapuh mendekap erat tubuh Diana. “Kamu takut gelap?”
Tangan keriputnya mengelus
jemari-jemari
hitam cucunya.
Diana hanya mengangguk.
Senyum itu terlukis lagi. Begitu gampangnya Nenek Woro
menggerakkan bibirnya. Setelah
menghela nafas panjang, ia melanjutkan. “Malam
hanyalah rangkaian
waktu yang
sering kita lalui. Begitu pun dengan siang. Tak ada yang buruk dari keduanya. Dirilah yang mengatur
bagaimana menghargai
setiap detik dan waktu yang dimiliki.”
Nenek Woro menenggak segelas air putih yang sudah dipersiapkannya,
tenggorokannya terasa kering.
Lalu melanjutkan, “Mata tidak
pernah salah. Rekaman di
pikiran kita yang mengulas kembali.
Malam tidak lepas dari kegelapan. Satu kata
itu
bukan menjadi bumerang. Tuhan Maha Adil,
dan tahu apa yang indah untuk mata kita.”
Diana mengoam panjang. Matanya terasa berat. Siang tadi dia tidak tidur, terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan bermain.
“Sudah mengantuk?” tanya Nenek dengan suara parau, mengusap wajah sembab Diana.
“Sudah mengantuk?” tanya Nenek dengan suara parau, mengusap wajah sembab Diana.
“Sedikit, Nek,” jawab Diana menunjukkan dua jarinya yang menggambarkan kadar sedikit yang dimaksud.
“Memang malam selalu memberi waktu singkat, tapi ingin lama untuk dinikmati.”
“Memang malam selalu memberi waktu singkat, tapi ingin lama untuk dinikmati.”
Nenek tersenyum lagi. “Sama
halnya malam dan bintang. Tanpa gelap, kita tidak akan
bisa melihat indahnya gugusan bintang di langit. Kegelapan malam setia menemani mimpi
kita
untuk menyongsong
masa impian esok bersama mentari pagi.”
“Nek,” panggil Diana. Dia mempererat pelukannya. “Katanya bahagia itu sederhana.
Tapi kenapa kita
tidak diberi kesempatan untuk merasakan bahagai itu, walau sebentar? Apa bahagia
itu mahal?”
“Siapa bilang kita tidak merasakan kebahagiaan? Tanpa disadari, kita sudah
melaluinya. Perjuangan, keringat, dan pengorbanan.
Semuanya dilakukan untuk dapat menembus
satu hal. Yaitu
kebahagiaan.
Hanya menunggu waktu.”
"Kapan, Nek?"
"Hanya Tuhan yang tahu. Karena Dia akan selalu bersama langkah kita hingga manapun"
Nenek terikut mengoam panjang. Kantong matanya yang mengembung membuat dirinya tak kuat lagi menahan sentuhan angin malam. Di lihatnya Diana sudah menembus alam bawah sadarnya. Wajah polosnya meringkuk di dalam tubuh kecilnya. Dengan sisa tenaga, Nenek mengangkat tubuh kurus Diana ke dalam rumah.
"Kapan, Nek?"
"Hanya Tuhan yang tahu. Karena Dia akan selalu bersama langkah kita hingga manapun"
Nenek terikut mengoam panjang. Kantong matanya yang mengembung membuat dirinya tak kuat lagi menahan sentuhan angin malam. Di lihatnya Diana sudah menembus alam bawah sadarnya. Wajah polosnya meringkuk di dalam tubuh kecilnya. Dengan sisa tenaga, Nenek mengangkat tubuh kurus Diana ke dalam rumah.
Pagi-pagi buta Nenek Woro sudah meletakkan sayuran ke dalam bakul yang akan di jualnya ke pasar nanti. Selembar tikar kecil yang sudah ada bolongnya pun tak luput. Gulungan rambut terakhirnya menandakan ia siap menyambut pagi ini dengan harapan yang lebih baik.
Di hadapan cermin berukuran sedang, yang bagian ujungnya sedikit retak, Diana
tengah menyisir rambutnya.
Di
bawah lampu yang
cahayanya mulai redup,
senyumnya terlihat di cermin. Hari
ketiga masuk sekolah, tangannya dengan
sigap mengambil buku tulis
dan
pensil. Dengan senyum penuh kesombongan, ia mengetukkan
ujung pensil ke keningnya.
Otaknya telah
siap untuk menampung semua pelajaran.
Dengan hati ceria, Diana dan Nenek Woro berbarengan menyenandungkan sebuah lagu
di
jalanan setapak yang mereka
lalui.
Di
sela-sela, Diana bersiul
panjang yang di sambung dengan
syalalala dari
Nenek
sebagai
penutup konser kecil mereka.
Diana mengambil sebatang kayu yang tergeletak di tanah. Batu-batu kecil banyak yang
tertanam dalam tanah. Ia menyingkirkan batu-batu tersebut agar Nenek tidak
menginjaknya. Ia menengok ke belakang, Nenek Woro tertinggal enam langkah. Bakul yang di bawanya
membuat tubuh
bungkuknya berjalan semakin
lambat. Diana
menunggu
di
tempat langkah terakhir kakinya.
“Nek, ayo! Cepat, Nek!” seru Diana dari tempatnya.
“Nek, ayo! Cepat, Nek!” seru Diana dari tempatnya.
Nenek Woro
hanya tertawa. Tergambar
jelas bibirnya membentuk
kata “tunggu”. Diana malah tepuk tangan memberi semangat pada Nenek, seperti sedang mengikuti
perlombaan lari.
Langkah
terakhir Nenek Woro, nafasnya terdengar tak beraturan. Ia menyodorkan
bakul yang di bawanya ke arah Diana. Bermaksud agar Diana yang
membawanya. Warna
wajah Diana berubah. Ia tak
mau mengambil bakul berisi sayur
tersebut. Nenek Woro tetap
menyodorkan bakulnya. Diana menghentikan langkahnya, di liriknya Nenek Woro
dari samping. Senyum itu ada
lagi. Tangannya kembali menyodorkan bakul berisi sayur pada Diana. Dengan terpaksa ia mengambil bakul tersebut, dan memberikan buku tulis dan pensilnya pada Nenek
Woro untuk di bawanya.
Baru melangkahkan kaki, Nenek Woro meletakkan buku tulis dan pensil Diana di
atas bakul, bersamaan
dengan sayur.
“Nenek curang!” Diana hanya mendengus kesal.
"Diana coba kamu amati kawanan burung-burung di situ,” kata Nenek Woro sembari menunjuk kawanan burung-burung yang sedang bertengger di dahan pohon.
Diana melihat ke arah sekumpulan burung-burung itu, lalu cepat menggelengkan kepalanya.
“Nenek curang!” Diana hanya mendengus kesal.
"Diana coba kamu amati kawanan burung-burung di situ,” kata Nenek Woro sembari menunjuk kawanan burung-burung yang sedang bertengger di dahan pohon.
Diana melihat ke arah sekumpulan burung-burung itu, lalu cepat menggelengkan kepalanya.
“Dunia
dan
seisinya ini sangat luas, Diana. Semuanya diberikan Tuhan sebagai
pembelajaran untuk manusia.
Dari seekor burung
pun bisa. Kamu percaya?”
Diana hanya terdiam.
“Burung itu kecil. Tangan kita pun bisa menggenggamnya.” Nenek Woro mencontohkan genggaman tangan keriputnya. “Tidak
semua orang pernah melihat
bagaimana burung itu lahir.
Benar kan? Tapi, kita semua tahu bahwa burung lahir dengan berbagai
bentuk dan ukuran, lahir dengan membawa keunikan masing-masing, kekuatan, dan tentu
juga
kelemahan.
Mengapa burung
itu
harus bermigrasi, mengapa burung
terbang dalam kawanan yang
besar, bagaimana burung menjaga keseimbangannya. Selain itu, dimana burung tidak peduli ketika ada yang melihatnya, burung pun
memiliki sarang yang
dibuatnya sendiri, serta
burung dapat mengepakkan sayap kemudian melebarkannya untuk terbang tinggi. Kesemuanya itu juga ada pada diri
kita.”
Burung-burung
itu
sesekali menunjukkan kecantikannya melalui suara merdu yang
dimilikinya.
“Eem, burung maupun
manusia sama-sama melalui proses yang
panjang untuk akhirnya menghirup udara
dunia ini ya, Nek.” Diana melanjutkan perkataan Nenek Woro, dengan pelan,
takut
perkataannya salah.
Terlihat Nenek Woro mengulas senyumnya.
Terlihat Nenek Woro mengulas senyumnya.
“Burung kemana saja selalu bergerombol. Begitu juga manusia yang
selalu hidup dengan orang lain. Kita tidak dapat menduga apa yang akan terjadi. Benar menurut kita,
belum tentu untuk orang lain. Sama halnya dengan burung. Banyak burung yang
bertengger maupun
beterbangan ke sana kemari tanpa merisaukan siapa yang
melihatnya, karena mereka melakukan sendiri apa yang mereka butuhkan. Begitu pun manusia. Kebanyakan orang
selalu memikirkan apa
yang orang
lain katakan
tentangnya.
Kita
tahu
sendiri,
urusan masing-
masing orang itu berbeda. Maka, jangan pernah melakukan apa yang orang lain katakan benar,
padahal kita menolaknya. Ikuti
saja
kata hati
sendiri.” Diana melanjutkan perkataannya dengan lengkungan
senyum
di bibirnya.
Mereka pun tiba di persimpangan jalan. Diana dan Nenek Woro berpisah.
Mereka pun tiba di persimpangan jalan. Diana dan Nenek Woro berpisah.
“Nek, bila
matahari sudah berada
di atas kepala itu pertanda nanti kita
bertemu di sini lagi ya!” kata Diana berteriak
dari kejauhan. Nenek
Woro hanya tertawa. “Ingat ya,
Nek!”
Nenek pun mulai menghilang
ke dalam goa yang menjadi penghubung jalan keluar. Dengan langkah mantap Diana berjalan
ke arah sekolahnya.
Diana percaya bahwa dia dan Nenek Woro akan mendapatkan kebahagiaan yang
sederhana
itu.
Satu titik kepercayaan tertanam di kepalanya, apa yang dia lewati saat ini akan berbuah manis karena Tuhan
tak pernah melupakan
hamba-Nya.
-TAMAT-
NB:
Bagi yang ingin memiliki kumpulan cerpennya secara lengkap dapat menghubungi dibawah ini
- Telp : 083831498380
- Email: penerbitoksana@gmail.com
- Blog : www.penerbitoksana.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar