Karena Tuhan Tak Pernah Melupakan Kita Vol. 3 (Cerpen Pertama)


Oksana Publishing, April 2015

Musibah tidak mengenal siapa yang ditimpa, dan tidak ditentukan kapan waktunya. Terjadi begitu saja tanpa aba-aba, tetapi sekejap menghancurkan. Bangkit dari kehancuran ibaratnya mengumpulkan serpihan-serpihan kaca, dan akankah masih layak untuk digunakan. Diri sendiri dan Tuhan yang mengetahui. Hanya menunggu giliran untuk merasakan gelapnya hidup ini.

Tidak ada yang menginginkan untuk dilahirkan bila akhirnya sengsara. Terpikirkan pun sama sekali tidak. Bila ada pilihan dalam hidup ini, dari keluar dalam seonggok daging berdarah hingga tubuh kembali menyatu dengan tanah, Diana akan menentukan sendiri list hidupnya.
Tersenyum dalam kepahitan merupakan cambukan lembut dalam setiap hembusan nafas. Ringan tapi menekan. Berjalan di atas kaki tanpa tujuan seakan berkata pun tidak ada artinya. Hitam dan putih menjadi dua pilihan, tanpa ada pilihan warna lainnya. Hanya doa sebagai penyejuk hati, dimana segalanya dicoba untuk menerima. Kenyataan itu memang menyakitkan. Pukulan palu dari Tuhan tidak ada yang dapat mengelak. Tajam.

 Dalam ingatan Diana ini bukan jalan hidup yang diidam-idamkannya.
                                                                                         ***
Dalam lindungan Tuhan, bayi mungil itu masih hidup dan menangis di balik puing- puing bangunan.  Nenek  Woro dan  tetangga-tetangga  yang lain  mendengarkan  suara itu. Terdengar  kecil dan  menyayat  hati.  Ia  pun  bersama yang  lain  dengan  sangat  hati-hati mencoba menyelamatkan bayi perempuan tersebut.
Wajah bundarnya penuh dengan debu, isakan tak berdosanya membuat Nenek Woro meraih tangan mungil yang sedang begelayutan di atas tangan seseorang. Dalam baju hangat biru muda yang sudah berubah kecokelatan, bayi mungil itu meraung-raung dalam dekapan Nenek Woro.
Tangan keriputnya menyentuh pelan setiap bagian wajah bayi itu. Kain lusuh yang sedang dikenakannya direkatkan ke tubuh bayi itu. Angin sore membuat tubuh bayi prematur itu mendingin. Ia mendekapnya agar terasa hangat, dan menciumi seluruh wajahnya.
Sesaat, Nenek Woro terdiam. Menunggu dalam helaan nafas panjang. Mata sayunya melihat ke sekeliling, memerhatikan setiap orang yang ada di situ. Hanya wajah-wajah sedih penuh lelah, bukan wajah menginginkan.
Ia melihat kembali bayi tak berdosa itu. Senyumnya merekah diantara garis wajah keriputnya.
Hari ini, esok, dan selamanya, kamu milikku! kata Nenek Woro terbata-bata. Ada yang dirasanya lega. Sesekali ia mencium bayi itu lagi. Matahari pagi akan selalu menunggumu.”
***
Nenek! Aku sudah pulang! teriak Diana berlari menenteng sandalnya yang putus. Seragam sekolah yang lebih mirip baju bermain_sudah kotor di hari kedua di minggu ketiga November ia masuk sekolah. Segera di copotnya, lalu di buang ke lantai begitu saja. Dia berlari mengitari rumah reyot berdinding batu, dengan tanah sebagai dasarnya. Tak layak untuk di huni tetapi hanya itu adanya.
Nenek, dimana? Aku lapar. Apa sudah ada makanan?” tanya Diana sembari terus mencari keberadaan Nenek Woro. Di dapur tidak ada. Di bukanya pintu belakang, Nen. . . aaaaaa. . . !!!” teriak Diana histeris, percuma tidak akan ada yang mendengarnya, kecuali Nenek Woro disitu.
Baru melangkahkan kaki keluar dari pintu, Diana sudah di sambut dengan ayam terbang_beradu dengan lawannya. Di rumah ini ada empat ekor ayam. Dua ayam jantan dan dua ayam betina. Nenek Woro tidak membelinya, itu pemberian temannya ketika berjualan sayuran di luar. Ayam itu sudah beranak pinak menjadi delapan ekor. Nenek tidak mau menjadikannya lauk sebelum ayam itu berkembang biak lebih banyak.
Hidup mereka jauh dari pengaruh modernitas. Terpisah dari hiruk pikuk dunia luar. Memenuhi semua kebutuhan hidup sendiri. Nenek Woro berusia delapan puluh enam tahun, dan  Diana beranjak  enam  tahun, tinggal  di  sebuah  daerah  terpencil.  Mereka  melakukan semuanya secara mandiri.

Kruuuukk. . . kruuuukk. . . kruuuukk. . .” Diana memegangi perutnya yang sudah memberi tanda. Wajahnya mengerut. Perutnya mengerucut. Ia mengelus-elus perut kecilnya. Dia tidak menemukan Nenek Woro. Tangisnya pun lepas. Sambil mengucek-ucek matanya yang basah, dia berjalan ke arah halaman rumah, berharap menemukan Neneknya.
Dari jarak yang tidak jauh, Nenek Woro terlihat sedang memegang hasil sayuran yang ia tanam. Tempatnya menanam sayuran berada di lahan yang agak tinggi. Nenek berputar bila akan turun ke bawah, karena tidak ada anak tangga. Diana melihat Nenek tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang sudah habis, melambaikan sayuran yang baru saja di petiknya.
Nenek Woro mempercepat langkah kakinya. Tubuhnya yang sudah membungkuk, sedikit kewalahan melewati tanah becek sisa-sisa hujan tadi pagi. Dengan sandal yang sudah menipis, Nenek menapaki genangan air tanpa menghentikan senyumnya, tangannya terus melambai kearah Diana.
Nenek melihat kaki Diana yang tanpa alas kaki. Tangan keriputnya mengelus rambut Diana, sedikit merapikannya. Diana menunjuk sandalnya yang putus, yang diletakkan begitu saja di depan pintu.

"Kamu sudah lapar? tanya Nenek Woro, memegang perut kecil Diana. Sangat, Nek. Lauk hari ini apa? 

Dengan wajah lusuhnya Nenek mengangkat sayuran tadi.
Diana  mulai  mengeluarkan  air  mata  lagi.  Aku  tidak  mau  sayur  lagi!  Aku  mau daging! Aku tidak mau seperti kambing! Aku tidak mau!!!” Dia merebut sayuran dari tangan Nenek Woro, lalu membuangnya ke tanah becek, dan berlari ke dalam rumah.
Nenek Woro mengangkat sayuran yang telah bercampur dengan tanah itu. Lalu pergi ke arah kolam kecil_lebih tepatnya seperti genangan air, yang berisi tampungan air bersih yang tak jauh dari rumah.
Hitungan jari pun jarang daging sebagai lauk mereka. Nenek Woro hanya beternak ayam dan mengumpulkan sayuran yang ada di sekitar rumahnya, lalu menjualnya ke pasar yang jaraknya sangat jauh. Akses Nenek untuk pergi ke dunia luar adalah melalui sebuah goa yang dibuat oleh para penduduk desa sekitar lima dekade yang lalu. Ia benar-benar hidup mandiri. Sesekali teman lama Nenek mengunjunginya.
                                                                          ***

Hujan menemani Nenek Woro duduk di serambi rumah, sembari menjahit sandal Diana  yang  putus.  Penerangan  hanya dari  dua  buah  obor  yang  terpasang  di kanan-kiri serambi. Sejauh mata memandang tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam hutan-hutan itu bila malam menjelang, tak terkecuali Diana dan Nenek Woro.

Nenek memicingkan mata rabunnya ketika memasukkan jarum ke dalam karet sandal. Dengan  sedikit  kewalahan  Nenek mengerjakannya.  Ia  melirik  ke  dalam. Diana  terlihat dengan lahap memakan masakan Nenek walau hanya nasi dan sayur. Perutnya tidak tahan untuk berdiam hanya karena sayuran saja. Nenek tersenyum, lalu melanjutkan menjahit.
Memang ego selalu mengalahkan akal sehat. Tanpa di sadari menguasai hati kecil kita. Pikiran dan kata hati terkadang tak sejalan. Begitu mudahnya kita untuk di kuasai. Perasaan sensitif hanya kita yang dapat kendalikan. Maka dari itu, ego yang selalu terpatri dalam pikiran harus sejalan dengan kata hati, sehingga kita tidak merasa bermusuhan dengan hidup kita sendiri.
Nenek Woro mengelus rambut hitam Diana yang sedang tiduran di atas pangkuannya. Ia mulai menyanyikan cucunya sebuah lagu. Suara rentanya terdengar miris. Setiap nadanya terdengar rancu, terkadang Nenek juga lupa syairnya. Diana mencoba mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Neneknya. Sedari awal dia merasa alat pendengarannya sedikit sakit. Menusuk hingga ke dalam.

Beranjak  dari  pangkuannya,  Diana  menatap  Neneknya.  Nek,  simpan  saja suara Nenek untuk esok hari di pasar.Nenek Woro bukannya merasa tersinggung, tetapi sebentuk lengkungan tergambar di bibirnya. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Diana seperti anak-anak lainnya, terkadang nakal. Tak sedetik pun dia pernah melihat ada celah amarah di wajah Nenek Woro.
Kok, Nenek malah tersenyum?

Tersenyumlah. Seakan esok tiada lagi, Diana ucap Nenek Woro di sela batuknya. Tubuhnya yang rapuh mendekap erat tubuh Diana. Kamu takut gelap?” Tangan keriputnya mengelus jemari-jemari hitam cucunya.
Diana hanya mengangguk.
Senyum itu terlukis lagi. Begitu gampangnya Nenek Woro menggerakkan bibirnya. Setelah menghela nafas panjang, ia melanjutkan. Malam hanyalah rangkaian waktu yang sering kita lalui. Begitu pun dengan siang. Tak ada yang buruk dari keduanya. Dirilah yang mengatur bagaimana menghargai setiap detik dan waktu yang dimiliki.”
Nenek Woro menenggak segelas air putih yang sudah dipersiapkannya, tenggorokannya terasa kering.  Lalu melanjutkan, Mata tidak  pernah  salah. Rekaman di pikiran kita yang mengulas kembali. Malam tidak lepas dari kegelapan. Satu kata itu bukan menjadi bumerang. Tuhan Maha Adil, dan tahu apa yang indah untuk mata kita.”
Diana mengoam panjang. Matanya terasa berat. Siang tadi dia tidak tidur, terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan bermain.

Sudah  mengantuk? tanya  Nenek dengan  suara  parau,  mengusap  wajah sembab Diana.

Sedikit, Nek,” jawab Diana menunjukkan dua jarinya yang menggambarkan kadasedikit yang dimaksud.

Memang malam selalu memberi waktu singkat, tapi ingin lama untuk dinikmati.”
Nenek tersenyum lagi. “Sama halnya malam dan bintang. Tanpa gelap, kita tidak akan bisa melihat indahnya gugusan bintang di langit. Kegelapan malam setia menemani mimpi kita untuk menyongsong masa impian esok bersama mentari pagi.”
Nek,” panggil Diana. Dia mempererat pelukannya. Katanya bahagia itu sederhana. Tapi kenapa kita tidak diberi kesempatan untuk merasakan bahagai itu, walau sebentar? Apa bahagia itu mahal?

Siapa bilang kita tidak merasakan kebahagiaan? Tanpa disadari, kita sudah melaluinya. Perjuangan, keringat, dan pengorbanan. Semuanya dilakukan untuk dapat menembus satu hal. Yaitu kebahagiaan. Hanya menunggu waktu.”

"Kapan, Nek?"

"Hanya Tuhan yang tahu. Karena Dia akan selalu bersama langkah kita hingga manapun"

Nenek terikut mengoam panjang. Kantong matanya yang mengembung membuat dirinya tak kuat lagi menahan sentuhan angin malam. Di lihatnya Diana sudah menembus alam bawah sadarnya. Wajah polosnya meringkuk di dalam tubuh kecilnya. Dengan sisa tenaga, Nenek mengangkat tubuh kurus Diana ke dalam rumah.

                                                                            ***

Pagi-pagi buta Nenek Woro sudah meletakkan sayuran ke dalam bakul yang akan di jualnya ke pasar nanti. Selembar tikar kecil yang sudah ada bolongnya pun tak luput. Gulungan rambut terakhirnya menandakan ia siap menyambut pagi ini dengan harapan yang lebih baik.
Di hadapan cermin berukuran sedang,  yang bagian ujungnya sedikit retak, Diana tengah  menyisir  rambutnya.  Di  bawah lampu  yang  cahayanya  mulai  redup, senyumnya terlihat di cermin. Hari ketiga masuk sekolah, tangannya dengan sigap mengambil buku tulis dan pensil. Dengan senyum penuh kesombongan, ia mengetukkan ujung pensil ke keningnya. Otaknya telah siap untuk menampung semua pelajaran.
Dengan hati ceria, Diana dan Nenek Woro berbarengan menyenandungkan sebuah lagu  di  jalanan  setapak  yang  mereka  lalui.  Di  sela-sela,  Diana  bersiul panjang  yang  di sambung dengan syalalala dari Nenek sebagai penutup konser kecil mereka.
Diana mengambil sebatang kayu yang tergeletak di tanah. Batu-batu kecil banyak yang tertanam dalam tanah. Ia menyingkirkan batu-batu tersebut agar Nenek tidak menginjaknya. Ia menengok ke belakang, Nenek Woro tertinggal enam langkah. Bakul yang di  bawanya  membuat tubuh  bungkuknya  berjalan  semakin lambat.  Diana  menunggu  di tempat langkah terakhir kakinya.

Nek, ayo! Cepat, Nek!” seru Diana dari tempatnya.
Nenek Woro hanya tertawa. Tergambar jelas bibirnya membentuk kata tunggu. Diana malah tepuk tangan memberi semangat pada Nenek, seperti sedang mengikuti perlombaan lari.
Langkah   terakhir Nenek Woro, nafasnya terdengar tak beraturan. Ia menyodorkan bakul yang di bawanya ke arah Diana. Bermaksud agar Diana yang membawanya. Warna wajah Diana berubah. Ia tak mau mengambil bakul berisi sayur tersebut. Nenek Woro tetap menyodorkan bakulnya. Diana menghentikan langkahnya, di liriknya Nenek Woro dari samping. Senyum itu ada lagi. Tangannya kembali menyodorkan bakul berisi sayur pada Diana. Dengan terpaksa ia mengambil bakul tersebut, dan memberikan buku tulis dan pensilnya pada Nenek  Woro untuk  di  bawanya.  Baru melangkahkan  kaki,  Nenek  Woro meletakkan buku tulis dan pensil Diana di atas bakul, bersamaan dengan sayur.

Nenek curang!” Diana hanya mendengus kesal.

"Diana coba kamu amati kawanan burung-burung di situ,” kata Nenek Woro sembari menunjuk kawanan burung-burung yang sedang bertengger di dahan pohon.

Diana melihat  ke arah  sekumpulan  burung-burung itu,  lalu  cepat  menggelengkan kepalanya.
Dunia dan seisinya ini sangat luas, Diana. Semuanya diberikan Tuhan sebagai pembelajaran untuk manusia. Dari seekor burung pun bisa. Kamu percaya?
Diana hanya terdiam.
Burung itu kecil. Tangan kita pun bisa menggenggamnya. Nenek Woro mencontohkan genggaman tangan keriputnya. Tidak semua orang pernah melihat bagaimana burung itu lahir. Benar kan? Tapi, kita semua tahu bahwa burung lahir dengan berbagai bentuk dan ukuran, lahir dengan membawa keunikan masing-masing, kekuatan, dan tentu juga kelemahan.
Mengapa burung itu harus bermigrasi, mengapa burung terbang dalam kawanan yang besar, bagaimana burung menjaga keseimbangannya. Selain itu, dimana burung tidak peduli ketika ada yang melihatnya, burung pun memiliki sarang yang dibuatnya sendiri, serta burung dapat mengepakkan sayap kemudian melebarkannya untuk terbang tinggi. Kesemuanya itu juga ada pada diri kita.”
Burung-burung itu sesekali menunjukkan kecantikannya melalui suara merdu yang dimilikinya.
Eem, burung maupun manusia sama-sama melalui proses yang panjang untuk akhirnya menghirup udara dunia ini ya, Nek. Diana melanjutkan perkataan Nenek Woro, dengan pelan, takut perkataannya salah.

Terlihat Nenek Woro mengulas senyumnya.
Burung kemana saja selalu bergerombol. Begitu juga manusia yang selalu hidup dengan orang lain. Kita tidak dapat menduga apa yang akan terjadi. Benar menurut kita, belum tentu untuk orang lain. Sama halnya dengan burung. Banyak burung yang bertengger maupun beterbangan ke sana kemari tanpa merisaukan siapa yang melihatnya, karena mereka melakukan sendiri apa yang mereka butuhkan. Begitu pun manusia. Kebanyakan orang selalu memikirkan  apa yang  orang  lain  katakan  tentangnya.  Kita tahu  sendiri,  urusan  masing- masing orang itu berbeda. Maka, jangan pernah melakukan apa yang orang lain katakan benar,   padahal   kita   menolaknya.   Ikuti  saja   kata   hati   sendiri.”   Diana   melanjutkan perkataannya dengan lengkungan senyum di bibirnya.

Mereka pun tiba di persimpangan jalan. Diana dan Nenek Woro berpisah.
Nek, bila matahari sudah berada di atas kepala itu pertanda nanti kita bertemu di sini lagi ya!” kata Diana berteriak dari kejauhan. Nenek Woro hanya tertawa. Ingat ya, Nek!
Nenek pun mulai menghilang ke dalam goa yang menjadi penghubung jalan keluar. Dengan langkah mantap Diana berjalan ke arah sekolahnya.
Diana percaya bahwa dia dan Nenek Woro akan mendapatkan kebahagiaan  yang sederhana itu. Satu titik kepercayaan tertanam di kepalanya, apa yang dia lewati saat ini akan berbuah manis karena Tuhan tak pernah melupakan hamba-Nya.

-TAMAT-



NB:

Bagi yang ingin memiliki kumpulan cerpennya secara lengkap dapat menghubungi dibawah ini



Komentar